Jumat, 13 November 2015

Cerpen 'Kala Sepi Menyapa Hati'

Kala Sepi Menyapa Hati
Oleh Indri Hapsari

            Pemandangan langit malam yang begitu suram membuat suasana kian mencekam. Bukan merasakan hadirnya penampakan, melainkan hanya sebuah bisikan malam yang tak mampu memberi kedamaian. Langit memang bertabur bintang. Bulan sabit pun menggantung memberi senyum menawan. Namun pancaran kehangatan yang biasa menemani malam terhalang oleh awan. Sinar yang selalu menghias kini telah pudar.
            Langit tak terlihat riang. Begitu pula dengan hati yang kurasakan. Sedihkah hati ini? Tidak! Sakitkah hati ini? Tidak! Lalu apa? Entahlah …. Aku tak tahu pasti. Hanya satu yang aku mengerti. Hati ini terasa begitu sunyi. Sepi.
Malam ini aku hadir ke pesta ulang tahun teman sekelasku. Dia bukanlah teman akrabku. Hanya seorang teman yang sekedar kenal. Ada tidaknya aku di pesta itu akan tetap sama. Tak berarti apa-apa.
            Aku datang sembari menenteng sebuah bingkisan bercorak bunga. Di dalamnya ada sebuah kado untuk dia yang saat ini tengah menyukuri pertambahan usia. Balon dan kertas warna-warni terhias dimana-mana. Kue tart besar berbalut cream coklat tengah terpajang di tengah ruangan. Satu per satu teman berdatangan dengan ucapan serta bingkisan.
Teman? Iya, mereka yang ada di sini adalah teman. Jumlah mereka hampir memenuhi ruangan. Semua terlihat begitu riang. Namun, entah kenapa keriangan itu tak mampu kurasakan. Memang, cahaya kegembiraan itu sempat terpancar. Namun hadirnya tak begitu terang. Tak mampu meninggalkan kesan, hingga tertutup kembali oleh gumpaalan awan.
            Aku berada bersama mereka. Teman-teman yang telah larut dalam kegembiraan. Aku bagai patahan ranting yang berada di tengah padang rumput berbunga. Tak berarti apa-apa. Kala hembusan angin yang menyejukkan datang, rumput pun bergoyang. Larut dalam buaian. Sementara keberadaan ranting di tengah sana sungguh terabaikan.
            Suguhan-suguhan permainan ditampilkan untuk menghibur hati para undangan. Canda dan tawa telah singgah dan menyatu di hati mereka. Tapi …. Mengapa? Apa yang salah? Aku tak mampu turut merasakan kebahagiaan mereka. Mereka semua teman teman yang kukenal. Tapi aku merasa asing di tempat ini. Mereka terlihat riang. Sementara aku hanya bungkam. Larut dalam kesunyian.
            Adakah yang menyadari kehadiranku di sini? Jika ada tolonglah. Tolong tepiskan sepi yang tengah meyapa hati ini. Kenapa? Kenapa kalian tak ingin berbagi rasa yang kalian nikmati? Aku begitu iri dengan semua ini.
Batin ini terus teracuni oleh beragam tanya yang menghantui jiwa. Tak ada satu pun dari mereka yang menyapa sepiku. Sungguh dua jam terasa sebulan. Begitu lama.  Ketika suasana pesta semakin bercahaya, hatiku malah gelisah. Entah berapa lama aku terjebak dalam sepi. Saat tersadar aku telah menerima souvenir dari pesta barusan. Aku telah sadar, meski sebelumnya aku tak pingsan. Aku tersadar dan kembali pada kenyataan.
            Pestanya sudah selesai. Aku mendapat buah tangan berupa lilin mainan yang bisa bercahaya. Lilin mainan yang menurut teman-temanku terlihat lucu. Lucu? Tidak! Karena benda itu tak bisa membuatku tertawa. Aku pun yakin cahayanya tak mampu memberi sinar pada hatiku.
Aku pulang sendirian, hingga aku berjumpa dengan Manda. Dia adalah teman dekatku yang selalu mendengar keluh kesah kehidupanku. Sayangnya kita berbeda sekolah.
“Rin, kamu beruntung. Aku dengar di sekolahmu banyak yang bersaing mendapatkan hatimu” Tutur Manda memcoba memecah keheningan.
“Biarkan saja mereka.” Tuturku sembari tetap berjalan.
“Kamu kenapa berubah dingin begini sih ? Apa karena mantan kamu yang ….”
“Sstt … Sudah. Aku pulang dulu. Kamu hati-hati di jalan.”
Aku membuat Manda menghentikan penuturannya. Kami berpisah jalan. Manda menatapku dari kejauhan. Tatapan iba atas sikapku yang menurutnya telah berubah. Benar. Aku memang telah berubah. Aku yang dulunya penuh tawa kini selalu gundah.
Hatiku telah tersakiti. Begitu sakit hingga aku tak lagi mampu merasakan deritanya. Semua terasa hampa. Luka itu memang telah begitu lama. Namun menghilangkan bekasnya sungguh susah. Untuk sebuah hati yang telah tersakiti, keadaan ini sulit untuk diobati.. Aku tak tahu sampai kapan akan seperti ini. Hanya satu yang kumengerti, hati ini begitu sunyi. Sepi itu telah menyapa hati.  
Ada sebuah pesan yang dapat membangunkan diri dari kehampaan. Ingatlah asa dan  impianmu. Bangkitlah dan raih cita-citamu. Jangan biarkan dirimu larut dalam keheningan dan keputusasaan. Jangan biarkan diri terjebak dalam sepi hanya karena sebuah luka yang sulit terobati. Jadikan masa lalumu sebagai cermin untuk lebih berhati-hati di masa depan. Senyatanya, diri kita tidaklah sendiri. Ada tempat untuk kita berbagi. Bersimpuh dan agungkan nama-Nya. Niscaya dengan kuasa-Nya semua akan dijadikan begitu mudah.
           
***
Cerita Fiksi
Januari  2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar