Kala Sepi Menyapa Hati
Oleh Indri Hapsari
Pemandangan langit malam yang begitu
suram membuat suasana kian mencekam. Bukan merasakan hadirnya penampakan,
melainkan hanya sebuah bisikan malam yang tak mampu memberi kedamaian. Langit
memang bertabur bintang. Bulan sabit pun menggantung memberi senyum menawan.
Namun pancaran kehangatan yang biasa menemani malam terhalang oleh awan. Sinar yang
selalu menghias kini telah pudar.
Langit tak terlihat riang. Begitu
pula dengan hati yang kurasakan. Sedihkah hati ini? Tidak! Sakitkah hati ini?
Tidak! Lalu apa? Entahlah …. Aku tak tahu pasti. Hanya satu yang aku mengerti.
Hati ini terasa begitu sunyi. Sepi.
Malam ini aku hadir ke pesta ulang tahun teman
sekelasku. Dia bukanlah teman akrabku. Hanya seorang teman yang sekedar kenal.
Ada tidaknya aku di pesta itu akan tetap sama. Tak berarti apa-apa.
Aku datang sembari menenteng sebuah
bingkisan bercorak bunga. Di dalamnya ada sebuah kado untuk dia yang saat ini
tengah menyukuri pertambahan usia. Balon dan kertas warna-warni terhias dimana-mana.
Kue tart besar berbalut cream coklat tengah terpajang di tengah
ruangan. Satu per satu teman berdatangan dengan ucapan serta bingkisan.
Teman? Iya, mereka yang ada di sini adalah teman.
Jumlah mereka hampir memenuhi ruangan. Semua terlihat begitu riang. Namun,
entah kenapa keriangan itu tak mampu kurasakan. Memang, cahaya kegembiraan itu
sempat terpancar. Namun hadirnya tak begitu terang. Tak mampu meninggalkan
kesan, hingga tertutup kembali oleh gumpaalan awan.
Aku berada bersama mereka.
Teman-teman yang telah larut dalam kegembiraan. Aku bagai patahan ranting yang
berada di tengah padang rumput berbunga. Tak berarti apa-apa. Kala hembusan
angin yang menyejukkan datang, rumput pun bergoyang. Larut dalam buaian. Sementara
keberadaan ranting di tengah sana sungguh terabaikan.
Suguhan-suguhan permainan
ditampilkan untuk menghibur hati para undangan. Canda dan tawa telah singgah dan
menyatu di hati mereka. Tapi …. Mengapa? Apa yang salah? Aku tak mampu turut
merasakan kebahagiaan mereka. Mereka semua teman teman yang kukenal. Tapi aku merasa
asing di tempat ini. Mereka terlihat riang. Sementara aku hanya bungkam. Larut
dalam kesunyian.
Adakah yang menyadari kehadiranku di
sini? Jika ada tolonglah. Tolong tepiskan sepi yang tengah meyapa hati ini. Kenapa?
Kenapa kalian tak ingin berbagi rasa yang kalian nikmati? Aku begitu iri dengan
semua ini.
Batin ini terus teracuni oleh beragam tanya yang
menghantui jiwa. Tak ada satu pun dari mereka yang menyapa sepiku. Sungguh dua
jam terasa sebulan. Begitu lama. Ketika
suasana pesta semakin bercahaya, hatiku malah gelisah. Entah berapa lama aku
terjebak dalam sepi. Saat tersadar aku telah menerima souvenir dari pesta barusan. Aku telah sadar, meski sebelumnya aku
tak pingsan. Aku tersadar dan kembali pada kenyataan.
Pestanya sudah selesai. Aku mendapat
buah tangan berupa lilin mainan yang bisa bercahaya. Lilin mainan yang menurut
teman-temanku terlihat lucu. Lucu? Tidak! Karena benda itu tak bisa membuatku
tertawa. Aku pun yakin cahayanya tak mampu memberi sinar pada hatiku.
Aku pulang sendirian, hingga aku berjumpa dengan
Manda. Dia adalah teman dekatku yang selalu mendengar keluh kesah kehidupanku.
Sayangnya kita berbeda sekolah.
“Rin, kamu beruntung. Aku dengar di sekolahmu banyak
yang bersaing mendapatkan hatimu” Tutur Manda memcoba memecah keheningan.
“Biarkan saja mereka.” Tuturku sembari tetap berjalan.
“Kamu kenapa berubah dingin begini sih ? Apa karena mantan
kamu yang ….”
“Sstt … Sudah. Aku pulang dulu. Kamu hati-hati di
jalan.”
Aku membuat Manda menghentikan penuturannya. Kami
berpisah jalan. Manda menatapku dari kejauhan. Tatapan iba atas sikapku yang
menurutnya telah berubah. Benar. Aku memang telah berubah. Aku yang dulunya
penuh tawa kini selalu gundah.
Hatiku telah tersakiti. Begitu sakit hingga aku tak lagi
mampu merasakan deritanya. Semua terasa hampa. Luka itu memang telah begitu
lama. Namun menghilangkan bekasnya sungguh susah. Untuk sebuah hati yang telah
tersakiti, keadaan ini sulit untuk diobati.. Aku tak tahu sampai kapan akan
seperti ini. Hanya satu yang kumengerti, hati ini begitu sunyi. Sepi itu telah
menyapa hati.
Ada sebuah pesan yang dapat membangunkan diri dari
kehampaan. Ingatlah asa dan impianmu.
Bangkitlah dan raih cita-citamu. Jangan biarkan dirimu larut dalam keheningan
dan keputusasaan. Jangan biarkan diri terjebak dalam sepi hanya karena sebuah
luka yang sulit terobati. Jadikan masa lalumu sebagai cermin untuk lebih
berhati-hati di masa depan. Senyatanya, diri kita tidaklah sendiri. Ada tempat
untuk kita berbagi. Bersimpuh dan agungkan nama-Nya. Niscaya dengan kuasa-Nya
semua akan dijadikan begitu mudah.
***
Cerita FiksiJanuari 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar