Dua Kunci
Oleh Indri Hapsari
Udara pagi yang menyegarkan menjadi
tombak semangat bagi setiap insan dalam melakoni kewajiban. Bersimpuh khidmat
sembari memuji asma Yang Maha Terpuji. Tunduk dengan segala kerendahan hati. Rangkaian
doa yang tercurah pada Ilahi Rabbi. Senantiasa mengharap belas kasih agar
segala khilaf dapat terampuni.
Pak Ihsan duduk di serambi depan rumahnya. Ia masih
mengenakan sarung dan peci. Ia mencoba menikmati segarnya embun pagi. Hingga sinar
mentari mulai mengganti gelap yang sunyi, segala rutinitas pun menjadi peran
yang harus dijalani. Seperti biasa Pak Ihsan memompa sepeda angin miliknya
sebelum pergi mengajar. Tak lupa ia memasukkan bekal ke dalam tas miliknya. Setelah
siap, barulah ia berangkat.
Pak Ihsan adalah seorang guru matematika sekolah
menengah pertama yang sudah belasan tahun melakoni profesinya Di kalangan siswa
ia terkenal sebagai guru yang disiplin sekaligus galak. Tak heran jika ia
ditakuti. Tak jarang dijumpai siswa yang hanya menundukkan kepala kala
berpapasan dengannya.
“Kerjakan soal halaman 21 nomor 3, 4
dan 6. Waktunya 15 menit. Nanti saya akan menunjuk beberapa anak untuk ke depan.”
Pak Ihsan menjelaskan dengan lantang.
Tanpa pikir panjang semua siswa
bergegas mengerjakan. Mereka terlihat tegang. Kecuali seorang siswa laki-laki
yang duduk di bangku dekat jendela. Ia mengerjakan soal yang ada sembari
tersenyum penuh ketenangan. Pak Ihsan terheran.
“Rizal, sepertinya kamu menikmati soal yang saya
berikan sampai-sampai tersenyum seperti itu. Kamu bisa mengerjakan semua
soalnya?” tanya Pak Ihsan.
Rizal tidak langsung menjawab pertanyaan gurunya. Ia hanya
tersenyum.
“Belum bisa pak.” Jawab Rizal kemudian.
“Lalu kenapa kamu tersenyum seperti itu?” tanya Pak
Ihsan dengan tegas.
“Saya tersenyum memberi semangat pada diri saya, pak.”
Jelas Rizal.
“Bagus.” Puji Pak Ihsan. “Sudah-sudah. Lanjutkan
pekerjaanmu. Kalian semua segera selesaikan tugasnya. Waktunya kurang 5 menit.”
Terang Pak Ihsan dengan suara lantangnya.
Mengetahui waktu yang kian menghimpit, semua wajah
terlihat gelisah. Hingga waktu pun berakhir. Pak Ihsan menunjuk Bella, Intan
dan Rizal untuk mengerjakan di depan. Dari ketiganya hanya Rizal yang tidak
dapat menyelesaikan soal nomor 6. Dia terhenti di tengah jalan. Anehnya, ia
tetap terlihat tenang.
“Soal semudah itu kamu tidak bisa mengerjakan?!” bentak
Pak Ihsan membuat suasana kelas semakin suram.
“Maaf pak. Saya akan belajar lebih giat lagi.” Tutur
Rizal dengan tenang, namun tetap bersikap penuh hormat.
“Bagus, itu memang sudah menjadi kewajibanmu sebagai
seorang pelajar.”
Jam pelajaran telah usai. Istirahat pertama pun tiba.
Semua siswa bergegas menuju kantin untuk sekedar membeli jajan. Namun, hal ini
tidak berlaku bagi Rizal. Ia tetap di kelas. Kondisi ini menarik perhatian Pak
Ihsan untuk bertanya.
“Rizal, kenapa kamu tidak pergi ke kantin juga?” tanya
Pak Ihsan.
“Tidak, pak. Saya membawa bekal. Saya ingin meniru
Bapak yang selalu membawa bekal ke sekolah.” Jelas Rizal. Membuat Pak Ihsan
sedikit terheran.
“Oh begitu, ayo
makan bersama bapak.” Pak Ihsan mengangkat sebuah kursi dan meletakkannya tepat
di samping kursinya. “Kalau bekalmu kamu makan sekarang nanti siang kamu makan
apa?” tanya Pak Ihsan kemudian.
“Saya pergi ke perpustakaan. Saya sering melihat bapak
di sana.” Terang Rizal.
“Rupanya kamu sering memerhatikan bapak ya?” Pak Ihsan
terlihat senang dengan penuturan Rizal. Sejenak komunikasi diantara keduanya
terhenti. Mereka terlihat begitu menikmati bekal masing-masing.
“Kelak saya ingin menjadi guru
seperti bapak. Seorang guru yang ditakuti.”
Pak Ihsan terkejut mendengar
penuturan Rizal yang tiba-tiba hingga membuatnya sedikit tersedak. Pernyataannya
benar-benar menusuk ke dalam hati. Ditakuti? Rupanya siswa salah mengartikan
niatnya. Pak Ihsan hanya mencoba menciptakan kedisiplinan. Namun itu memberi
kesan buruk bagi dirinya.
“Jadi, aku menjadi sosok yang ditakuti siswa.” Batin Pak Ihsan menyimpulkan.
“Kenapa kamu selalu tersenyum?”
tanyanya kemudian.
Terlihat Rizal tak langsung
menjawab. Ia meneguk air mineralnya.
“Kakak memberi saya dua kunci.” Jelasnya singkat
sembari meneguk air mineralnya lagi.
“Dua Kunci? Maksudnya bagaimana?” tanya Pak Ihsan
terheran.
Lagi-lagi Rizal tak langsung menjawab. Kini ia
berusaha menyuapkan beberapa sendok nasi ke dalam mulutnya. Pak Ihsan tidak
tergesa menyikapi keadaan ini. Ia berusaha menjadi murid yang baik. Sementara
Rizal menjadi gurunya.
“Kunci pertama adalah ikhlas. Kunci kedua adalah
senyum. Ikhlas membuat diri kita lebih bersemangat untuk berikhtiar dan senyum
akan memperingan keadaan. Seandainya ada kunci-kunci lain yang berguna untuk
kebaikan, sungguh tak ada kebimbangan untuk turut menggunakan. Kakak menasihati
saya seperti itu, pak.” Terang Rizal.
Pak Ihsan seolah mendapat pelajaran berharga hari ini.
Ia tersenyum penuh kebanggan. Bangga akan penuturan muridnya dan menjadi
isnpirasi tersendiri bagi dirinya.
“Kakak kamu pasti orang yang baik. Selalu menasihati
adiknya pada kebaikan.” Puji Pak Ihsan sembari menepuk pundak Rizal.
“Terima kasih, pak. Kakak saya juga seorang guru
seperti bapak. Dia selalu menasihati saya untuk terus belajar dan ….” Kata-kata
Rizal terhenti. Ia terdiam. “Semoga kakak selalu bangga padaku di surga sana.”
Rizal melanjutkan kalimatnya sembari menahan air mata yang sudah menggenang.
Pak Ihsan terkejut dengan pernyataan
terakhir yang dilontarkan Rizal. Ia mencoba menenangkan hati murid yang telah
menginspirasinya. Selagi Rizal terbenam dalam kesedihan, hati Pak Ihsan seakan
terpatri untuk berikrar.
“Kelas ini menjadi saksi. Tekad baru untuk menjadi
sosok yang terpuji. Bukan sosok yang ditakuti. Melainkan sosok yang dapat
menjadi panutan bagi siswa-siswi. Akan kusampaikan ilmu dengan sepenuh hati
hingga mampu menjadi inspirasi. Akan kuciptakan suasana belajar baru yang
menyenangkan. Bukan ketakutan. Hingga terwujud tujuan pembelajaran. Hingga
terbentuk generasi emas yang membanggakan.”
***
Cerita Fiksi
Dimuat di Majalah SUARA PGRI edisi Agustus 2015 dan dilombakan dalam rangka bulan bahasa KGB Oktober 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar