Sabtu, 07 November 2015

Cerpen 'Dua Kunci'



Dua Kunci 
Oleh Indri Hapsari

         Udara pagi yang menyegarkan menjadi tombak semangat bagi setiap insan dalam melakoni kewajiban. Bersimpuh khidmat sembari memuji asma Yang Maha Terpuji. Tunduk dengan segala kerendahan hati. Rangkaian doa yang tercurah pada Ilahi Rabbi. Senantiasa mengharap belas kasih agar segala khilaf dapat terampuni.   
Pak Ihsan duduk di serambi depan rumahnya. Ia masih mengenakan sarung dan peci. Ia mencoba menikmati segarnya embun pagi. Hingga sinar mentari mulai mengganti gelap yang sunyi, segala rutinitas pun menjadi peran yang harus dijalani. Seperti biasa Pak Ihsan memompa sepeda angin miliknya sebelum pergi mengajar. Tak lupa ia memasukkan bekal ke dalam tas miliknya. Setelah siap, barulah ia berangkat.
Pak Ihsan adalah seorang guru matematika sekolah menengah pertama yang sudah belasan tahun melakoni profesinya Di kalangan siswa ia terkenal sebagai guru yang disiplin sekaligus galak. Tak heran jika ia ditakuti. Tak jarang dijumpai siswa yang hanya menundukkan kepala kala berpapasan dengannya.
            “Kerjakan soal halaman 21 nomor 3, 4 dan 6. Waktunya 15 menit. Nanti saya akan menunjuk beberapa anak untuk ke depan.” Pak Ihsan menjelaskan dengan lantang.
            Tanpa pikir panjang semua siswa bergegas mengerjakan. Mereka terlihat tegang. Kecuali seorang siswa laki-laki yang duduk di bangku dekat jendela. Ia mengerjakan soal yang ada sembari tersenyum penuh ketenangan. Pak Ihsan terheran.
“Rizal, sepertinya kamu menikmati soal yang saya berikan sampai-sampai tersenyum seperti itu. Kamu bisa mengerjakan semua soalnya?” tanya Pak Ihsan.
Rizal tidak langsung menjawab pertanyaan gurunya. Ia hanya tersenyum.
“Belum bisa pak.” Jawab Rizal kemudian.
“Lalu kenapa kamu tersenyum seperti itu?” tanya Pak Ihsan dengan tegas.
“Saya tersenyum memberi semangat pada diri saya, pak.” Jelas Rizal.
“Bagus.” Puji Pak Ihsan. “Sudah-sudah. Lanjutkan pekerjaanmu. Kalian semua segera selesaikan tugasnya. Waktunya kurang 5 menit.” Terang Pak Ihsan dengan suara lantangnya.
Mengetahui waktu yang kian menghimpit, semua wajah terlihat gelisah. Hingga waktu pun berakhir. Pak Ihsan menunjuk Bella, Intan dan Rizal untuk mengerjakan di depan. Dari ketiganya hanya Rizal yang tidak dapat menyelesaikan soal nomor 6. Dia terhenti di tengah jalan. Anehnya, ia tetap terlihat tenang.
“Soal semudah itu kamu tidak bisa mengerjakan?!” bentak Pak Ihsan membuat suasana kelas semakin suram.
“Maaf pak. Saya akan belajar lebih giat lagi.” Tutur Rizal dengan tenang, namun tetap bersikap penuh hormat.
“Bagus, itu memang sudah menjadi kewajibanmu sebagai seorang pelajar.”
Jam pelajaran telah usai. Istirahat pertama pun tiba. Semua siswa bergegas menuju kantin untuk sekedar membeli jajan. Namun, hal ini tidak berlaku bagi Rizal. Ia tetap di kelas. Kondisi ini menarik perhatian Pak Ihsan untuk bertanya.
“Rizal, kenapa kamu tidak pergi ke kantin juga?” tanya Pak Ihsan.
“Tidak, pak. Saya membawa bekal. Saya ingin meniru Bapak yang selalu membawa bekal ke sekolah.” Jelas Rizal. Membuat Pak Ihsan sedikit terheran.
 “Oh begitu, ayo makan bersama bapak.” Pak Ihsan mengangkat sebuah kursi dan meletakkannya tepat di samping kursinya. “Kalau bekalmu kamu makan sekarang nanti siang kamu makan apa?” tanya Pak Ihsan kemudian.
“Saya pergi ke perpustakaan. Saya sering melihat bapak di sana.” Terang Rizal.
“Rupanya kamu sering memerhatikan bapak ya?” Pak Ihsan terlihat senang dengan penuturan Rizal. Sejenak komunikasi diantara keduanya terhenti. Mereka terlihat begitu menikmati bekal masing-masing.
            “Kelak saya ingin menjadi guru seperti bapak. Seorang guru yang ditakuti.”
            Pak Ihsan terkejut mendengar penuturan Rizal yang tiba-tiba hingga membuatnya sedikit tersedak. Pernyataannya benar-benar menusuk ke dalam hati. Ditakuti? Rupanya siswa salah mengartikan niatnya. Pak Ihsan hanya mencoba menciptakan kedisiplinan. Namun itu memberi kesan buruk bagi dirinya.
Jadi, aku menjadi sosok yang ditakuti siswa.” Batin Pak Ihsan menyimpulkan.
            “Kenapa kamu selalu tersenyum?” tanyanya kemudian.
            Terlihat Rizal tak langsung menjawab. Ia meneguk air mineralnya.
“Kakak memberi saya dua kunci.” Jelasnya singkat sembari meneguk air mineralnya lagi.
“Dua Kunci? Maksudnya bagaimana?” tanya Pak Ihsan terheran.
Lagi-lagi Rizal tak langsung menjawab. Kini ia berusaha menyuapkan beberapa sendok nasi ke dalam mulutnya. Pak Ihsan tidak tergesa menyikapi keadaan ini. Ia berusaha menjadi murid yang baik. Sementara Rizal menjadi gurunya.
“Kunci pertama adalah ikhlas. Kunci kedua adalah senyum. Ikhlas membuat diri kita lebih bersemangat untuk berikhtiar dan senyum akan memperingan keadaan. Seandainya ada kunci-kunci lain yang berguna untuk kebaikan, sungguh tak ada kebimbangan untuk turut menggunakan. Kakak menasihati saya seperti itu, pak.” Terang Rizal.
Pak Ihsan seolah mendapat pelajaran berharga hari ini. Ia tersenyum penuh kebanggan. Bangga akan penuturan muridnya dan menjadi isnpirasi tersendiri bagi dirinya.
“Kakak kamu pasti orang yang baik. Selalu menasihati adiknya pada kebaikan.” Puji Pak Ihsan sembari menepuk pundak Rizal.
“Terima kasih, pak. Kakak saya juga seorang guru seperti bapak. Dia selalu menasihati saya untuk terus belajar dan ….” Kata-kata Rizal terhenti. Ia terdiam. “Semoga kakak selalu bangga padaku di surga sana.” Rizal melanjutkan kalimatnya sembari menahan air mata yang sudah menggenang.
            Pak Ihsan terkejut dengan pernyataan terakhir yang dilontarkan Rizal. Ia mencoba menenangkan hati murid yang telah menginspirasinya. Selagi Rizal terbenam dalam kesedihan, hati Pak Ihsan seakan terpatri untuk berikrar.
“Kelas ini menjadi saksi. Tekad baru untuk menjadi sosok yang terpuji. Bukan sosok yang ditakuti. Melainkan sosok yang dapat menjadi panutan bagi siswa-siswi. Akan kusampaikan ilmu dengan sepenuh hati hingga mampu menjadi inspirasi. Akan kuciptakan suasana belajar baru yang menyenangkan. Bukan ketakutan. Hingga terwujud tujuan pembelajaran. Hingga terbentuk generasi emas yang membanggakan.”

***
Cerita Fiksi
Dimuat di Majalah SUARA PGRI edisi Agustus 2015 dan dilombakan dalam rangka bulan bahasa KGB Oktober 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar