Lukisan Hati
Oleh Indri Hapsari
Cinta itu tak kenal siapa, tua muda disapanya.
Cinta juga tak kenal kapan, sungguh tak
terduga kehadirannya. Meski tak pernah ada aba-aba, namun cinta seringkali
singgah. Membuat hati bahagia hingga gelisah. Bercampur aduk memberi rasa yang
berkecamuk dalam dada. Sungguh, cinta adalah anugerah.
Kini cinta itu menyapa Nizar,
seorang mahasiswa jurusan seni rupa. Sebelum ini Nizar selalu bersikap dingin
terhadap wanita. Namun, cinta memang luar biasa, bisa menakhlukkan hati seorang
Nizar. Ia terpesona dengan keanggunan Mia. Seorang gadis berjilbab yang baru
saja pindah ke desanya. Semenjak Mia datang, perhatian Nizar sukar teralihkan.
Di suatu siang yang terik terlihat
Nizar baru saja pulang dari kuliah. Langkahnya terhenti tepat di depan sebuah rumah
yang tak asing baginya. Diperhatikannya sosok yang sedang berdiri sembari
menatap sebuah papan. Itu Mia, sedang berdiri di halaman samping rumahnya.
Nizar mendekat demi mengusir rasa penasarannya akan apa yang sedang mencuri
perhatian Mia. Ternyata itu adalah sebuah papan berisi lukisan. Seni kaligrafi
yang indah.
“Apakah kamu yang membuatnya?” tanya
Nizar. Mia sedikit terkejut akan kehadiran Nizar yang tiba-tiba. Tak lama
setelahnya terlihat senyum yang merekah dari wajahnya.
“Assalamualaikum.” Mia mengucap
salam dengan lembutnya.
“I … iya. Wa’alaikumsalam.” Nizar
sedikit tergagap. “Nama kamu Mia, bukan? A … aku Nizar. Anak Pak Salim,
tetangga sebelah.” Nizar memperkenalkan diri.
“Iya, aku tahu. Aku sering memergokimu
sedang memperhatikanku di balik tembok pagar rumah itu.” Mia tersenyum sembari
tertawa kecil.
Pernyataan Mia yang begitu tiba-tiba
membuat Nizar sedikit salah tingkah. Mia mengajak Nizar duduk di teras rumahnya.
Obrolan ringan disertai canda menjadi suguhan istimewa. Rupanya Mia memiliki
hobi dan keterampilan yang sama dengannya, yakni melukis.
Nizar meminta Mia mengajarinya seni kaligrafi. Mia
bersedia. Hari demi hari mereka berdua menjadi semakin akrab. Membuat benih
cinta yang tertanam di hati Nizar bersemi indah. Mia hanya seorang gadis biasa,
namun ia adalah muslimah yang sholehah. Nizar berharap dengan hadirnya seorang
Mia akan mampu menjadikannya lebih bertaqwa kepada-Nya.
Di suatu sore yang cerah Nizar
mengajak Mia ke bukit tempat warga desa biasa menggembalakan ternaknya.
Pemandangan desa dari atas bukit dapat disaksikan dengan leluasa. Panorama yang
mengagumkan, bukti nyata keagungan-Nya.
“Ini adalah tempat kesukaanku. Alam
memberiku inspirasi. Semakin aku dekat dengan alam, hatiku tenang.” Nizar
berceloteh sembari memegang sebuah sketchbook.
“Suguhan alam yang mendamaikan ini adalah
tanda kebesaran-Nya. Hatimu akan jauh lebih tenang jika kamu lebih mendekatkan
diri kepada-Nya.” Mia menjelaskan sembari berdiri menatap senja.
Sejenak tak ada obrolan di antara
mereka. Nizar terlihat asik dengan coretan di sketchbook miliknya. Sementara Mia masih tetap menikmati senja.
“Mia, ini untukmu.” Nizar memberikan
sketchbook yang sedari tadi
dipegangnya.
“Ini ….” Mia tak melanjutkan
kata-katanya. Ditatapnya sebuah sketsa bukit dengan matahari senja. Di
sampingnya ada sebuah tulisan. Bismillah,
aku mencintaimu. Sejenak Mia tertunduk, lalu diperhatikannya kembali senja yang
mulai memudar. Agak lama tak terucap sepatah katapun dari mulutnya. Hanya
nampak sebuah senyum tersungging yang tak dapat diartikan oleh Nizar.
“Cinta itu memang indah. Tapi jangan
sampai kita lengah karena keindahannya. Hingga membuat kita terjatuh dalam
palung dosa. Hendaklah kita pandai-pandai menyikapinya.” Mia berkata sembari menghadap
senja.
“Aku sangat mencintaimu lebih dari
apapun.” Jelas Nizar yang kini bangkit dari duduknya. Namun sikapnya tak
membuat Mia memalingkan pandangannya dari senja.
“Jangan terlalu berlebihan mencintai
seseorang. Sahabat Rosul, Ali bin Abi Thalib berkata, Cintailah kekasihmu sekedarnya saja, siapa tahu nanti akan jadi
musuhmu. Dan bencilah musuhmu sekedarnya saja, siapa tahu nanti akan jadi
kekasihmu. Cintamu kepada Sang Pencipta haruslah jauh lebih dari segalanya.“
Tutur Mia menjelaskan.
Nizar memahami penuturan Mia. Ia tertunduk lesu. Cinta
Mia tak bisa diraihnya.
“Serahkan semua kepada-Nya. Besok aku akan kembali ke kota.
Aku mendapat beasiswa untuk kuliah di sana. Sementara ini mari sama-sama
berjuang untuk masa depan.” Tutur Mia menambahkan.
“Besok?” Nizar menghela nafas
panjang. “Baiklah, jaga diri baik-baik. Semoga sukses.” Nizar berkata sembari
menguatkan hatinya yang telah terasa begitu pilu.
Hilangnya senja menuntun mereka untuk kembali ke
rumah. Perasaan hancur kini tepat mengenai hati Nizar. Di sepertiga malam ia
bersimpuh menghadap-Nya. Melantunkan doa hingga memuji asma-Nya. Setelah itu ia
mengambil kuas. Nizar mulai melukis. Sebuah lukisan yang sarat arti atas
perasaannya. Sebuah lukisan hati untuk cinta. Nizar melukis wajah Mia.
Keesokan harinya travel
yang siap membawa Mia datang.
“Ini untukmu. Simpanlah.” Nizar
memberikan lukisan yang ia buat semalam. Sejenak Mia memperhatikan lukisan itu
sebelum akhirnya masuk ke dalam travel.
“Terima kasih. Setelah ini coba kamu
periksa tas ranselmu yang tertinggal di rumahku kemarin. Aku pergi dulu. Asaalamualaikum.”
Mia melambaikan tangan.
“Waalaikumsalam ….” Nizar tersenyum
sembari membalas lambaian tangan Mia.
“Ransel? Aku harus memeriksanya.”
Tutur Nizar sambil berlari kecil menuju rumah Mia.
Nizar membuka ranselnya. Di dalamnya ternyata ada
sebuah bingkisan. Saat dibuka isinya adalah kaligrafi. Nizar tersenyum
memandang kaligrafi buatan tangan Mia. Sejenak
ia perhatikan lukisan tersebut. Nizar sedikit terkejut mendapati sebuah pesan
di balik lukisan itu..
“Aku tidak pernah berkata tidak atas
pengakuanmu waktu itu. Percayalah dengan takdir-Nya. Jika engkau yakin bahwa
aku adalah jodoh yang dipersiapkan untukmu, maka tunggulah aku. Di sini aku
juga akan menunggu, karena keyakinanku sama sepertimu.” Nizar membaca tulisan
itu dengan lirih. Sebuah senyum terlukis di wajahnya yang kini terlihat cerah.
Nizar memajang lukisan dari Mia di
tembok kamarnya. Ia memerhatikan lukisan itu dengan perasaan bahagia. Nizar
bersyukur atas takdir-Nya yang sungguh indah. Nizar percaya bahwa apa yang
sedang terjadi dalam hidupnya adalah yang terbaik bagi dirinya. Mungkin inilah
cinta yang dilandasi dengan taqwa.
***
Cerita Fiksi
Januari 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar