Sabtu, 07 November 2015

Cerpen 'Lukisan Hati'



Lukisan Hati
Oleh Indri Hapsari

            Cinta itu tak kenal siapa, tua muda disapanya. Cinta juga tak kenal kapan,  sungguh tak terduga kehadirannya. Meski tak pernah ada aba-aba, namun cinta seringkali singgah. Membuat hati bahagia hingga gelisah. Bercampur aduk memberi rasa yang berkecamuk dalam dada. Sungguh, cinta adalah anugerah.
            Kini cinta itu menyapa Nizar, seorang mahasiswa jurusan seni rupa. Sebelum ini Nizar selalu bersikap dingin terhadap wanita. Namun, cinta memang luar biasa, bisa menakhlukkan hati seorang Nizar. Ia terpesona dengan keanggunan Mia. Seorang gadis berjilbab yang baru saja pindah ke desanya. Semenjak Mia datang, perhatian Nizar sukar teralihkan.
            Di suatu siang yang terik terlihat Nizar baru saja pulang dari kuliah. Langkahnya terhenti tepat di depan sebuah rumah yang tak asing baginya. Diperhatikannya sosok yang sedang berdiri sembari menatap sebuah papan. Itu Mia, sedang berdiri di halaman samping rumahnya. Nizar mendekat demi mengusir rasa penasarannya akan apa yang sedang mencuri perhatian Mia. Ternyata itu adalah sebuah papan berisi lukisan. Seni kaligrafi yang indah.
            “Apakah kamu yang membuatnya?” tanya Nizar. Mia sedikit terkejut akan kehadiran Nizar yang tiba-tiba. Tak lama setelahnya terlihat senyum yang merekah dari wajahnya.
            “Assalamualaikum.” Mia mengucap salam dengan lembutnya.
            “I … iya. Wa’alaikumsalam.” Nizar sedikit tergagap. “Nama kamu Mia, bukan? A … aku Nizar. Anak Pak Salim, tetangga sebelah.” Nizar memperkenalkan diri.
            “Iya, aku tahu. Aku sering memergokimu sedang memperhatikanku di balik tembok pagar rumah itu.” Mia tersenyum sembari tertawa kecil.
            Pernyataan Mia yang begitu tiba-tiba membuat Nizar sedikit salah tingkah. Mia mengajak Nizar duduk di teras rumahnya. Obrolan ringan disertai canda menjadi suguhan istimewa. Rupanya Mia memiliki hobi dan keterampilan yang sama dengannya, yakni melukis.
Nizar meminta Mia mengajarinya seni kaligrafi. Mia bersedia. Hari demi hari mereka berdua menjadi semakin akrab. Membuat benih cinta yang tertanam di hati Nizar bersemi indah. Mia hanya seorang gadis biasa, namun ia adalah muslimah yang sholehah. Nizar berharap dengan hadirnya seorang Mia akan mampu menjadikannya lebih bertaqwa kepada-Nya.
            Di suatu sore yang cerah Nizar mengajak Mia ke bukit tempat warga desa biasa menggembalakan ternaknya. Pemandangan desa dari atas bukit dapat disaksikan dengan leluasa. Panorama yang mengagumkan, bukti nyata keagungan-Nya.
            “Ini adalah tempat kesukaanku. Alam memberiku inspirasi. Semakin aku dekat dengan alam, hatiku tenang.” Nizar berceloteh sembari memegang sebuah sketchbook.
             “Suguhan alam yang mendamaikan ini adalah tanda kebesaran-Nya. Hatimu akan jauh lebih tenang jika kamu lebih mendekatkan diri kepada-Nya.” Mia menjelaskan sembari berdiri menatap senja.
            Sejenak tak ada obrolan di antara mereka. Nizar terlihat asik dengan coretan di sketchbook miliknya. Sementara Mia masih tetap menikmati senja.
            “Mia, ini untukmu.” Nizar memberikan sketchbook yang sedari tadi dipegangnya.
            “Ini ….” Mia tak melanjutkan kata-katanya. Ditatapnya sebuah sketsa bukit dengan matahari senja. Di sampingnya ada sebuah tulisan. Bismillah, aku mencintaimu. Sejenak Mia tertunduk, lalu diperhatikannya kembali senja yang mulai memudar. Agak lama tak terucap sepatah katapun dari mulutnya. Hanya nampak sebuah senyum tersungging yang tak dapat diartikan oleh Nizar.
            “Cinta itu memang indah. Tapi jangan sampai kita lengah karena keindahannya. Hingga membuat kita terjatuh dalam palung dosa. Hendaklah kita pandai-pandai menyikapinya.” Mia berkata sembari menghadap senja.
            “Aku sangat mencintaimu lebih dari apapun.” Jelas Nizar yang kini bangkit dari duduknya. Namun sikapnya tak membuat Mia memalingkan pandangannya dari senja.
            “Jangan terlalu berlebihan mencintai seseorang. Sahabat Rosul, Ali bin Abi Thalib berkata, Cintailah kekasihmu sekedarnya saja, siapa tahu nanti akan jadi musuhmu. Dan bencilah musuhmu sekedarnya saja, siapa tahu nanti akan jadi kekasihmu. Cintamu kepada Sang Pencipta haruslah jauh lebih dari segalanya.“ Tutur Mia menjelaskan.
Nizar memahami penuturan Mia. Ia tertunduk lesu. Cinta Mia tak bisa diraihnya.
“Serahkan semua kepada-Nya. Besok aku akan kembali ke kota. Aku mendapat beasiswa untuk kuliah di sana. Sementara ini mari sama-sama berjuang untuk masa depan.” Tutur Mia menambahkan.
            “Besok?” Nizar menghela nafas panjang. “Baiklah, jaga diri baik-baik. Semoga sukses.” Nizar berkata sembari menguatkan hatinya yang telah terasa begitu pilu.
Hilangnya senja menuntun mereka untuk kembali ke rumah. Perasaan hancur kini tepat mengenai hati Nizar. Di sepertiga malam ia bersimpuh menghadap-Nya. Melantunkan doa hingga memuji asma-Nya. Setelah itu ia mengambil kuas. Nizar mulai melukis. Sebuah lukisan yang sarat arti atas perasaannya. Sebuah lukisan hati untuk cinta. Nizar melukis wajah Mia.
Keesokan harinya travel yang siap membawa Mia datang. 
            “Ini untukmu. Simpanlah.” Nizar memberikan lukisan yang ia buat semalam. Sejenak Mia memperhatikan lukisan itu sebelum akhirnya masuk ke dalam travel.
            “Terima kasih. Setelah ini coba kamu periksa tas ranselmu yang tertinggal di rumahku kemarin. Aku pergi dulu. Asaalamualaikum.” Mia melambaikan tangan.
            “Waalaikumsalam ….” Nizar tersenyum sembari membalas lambaian tangan Mia.
            “Ransel? Aku harus memeriksanya.” Tutur Nizar sambil berlari kecil menuju rumah Mia.
Nizar membuka ranselnya. Di dalamnya ternyata ada sebuah bingkisan. Saat dibuka isinya adalah kaligrafi. Nizar tersenyum memandang kaligrafi buatan tangan Mia.  Sejenak ia perhatikan lukisan tersebut. Nizar sedikit terkejut mendapati sebuah pesan di balik lukisan itu..
            “Aku tidak pernah berkata tidak atas pengakuanmu waktu itu. Percayalah dengan takdir-Nya. Jika engkau yakin bahwa aku adalah jodoh yang dipersiapkan untukmu, maka tunggulah aku. Di sini aku juga akan menunggu, karena keyakinanku sama sepertimu.” Nizar membaca tulisan itu dengan lirih. Sebuah senyum terlukis di wajahnya yang kini terlihat cerah.  
            Nizar memajang lukisan dari Mia di tembok kamarnya. Ia memerhatikan lukisan itu dengan perasaan bahagia. Nizar bersyukur atas takdir-Nya yang sungguh indah. Nizar percaya bahwa apa yang sedang terjadi dalam hidupnya adalah yang terbaik bagi dirinya. Mungkin inilah cinta yang dilandasi dengan taqwa.
 
***
Cerita Fiksi 
Januari  2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar