Lunar
si Pelangi Malam
Oleh Indri Hapsari
Lunar …
Selalu bertahta di langit malam disanding
berjuta bintang. Sinar indahnya tak pernah pudar meski awan mendung terkadang
menghalang. Keanggunannya begitu memesona. Membuat takjub setiap insan yang
senantiasa penuh syukur atas ciptaan Tuhan.
Seperti
biasa, aku duduk di depan teras rumah usai belajar. Aku rasa bersantai adalah
pilihan terbaik untuk melepas penat. Ditemani secangkir teh hangat dan musik jazz yang sengaja kulirihkan volumenya
membuat suasana malamku begitu nyaman. Apalagi malam ini langit begitu cerah.
Hingga aku bisa leluasa memandang Lunar dengan berjuta bintang. Terkadang aku
coba bercengkrama dengannya seolah bercerita pada manusia. Sesekali terlontar
isi hati yang sengaja aku curhatkan padanya. Kini, Lunar bagai sahabat yang menemani
kesendirianku serta mengisi ruang sepiku tatkala mentari telah terbenam.
Malam-malam
berikutnya tetap kulakukan rutinitasku bersantai di depan sembari memandang Lunar.
Namun, itu tak berlaku ketika malam minggu datang. Tak jauh dari rumahku banyak
muda-mudi yang asyik dengan kegiatannya. Membuat kenyamanan dan ketenangan yang
biasa kurasakan sedikit memudar.
Hingga aku memilih untuk pergi ke taman kota. Meskipun di sana juga banyak
muda-mudi, namun aku bisa merasakan kenyamananku kembali.
Aku
duduk sendiri di bangku taman yang letaknya tepat berada di tengah taman.
Lokasi tempat duduk yang kupilih lumayan menguntungkanku. Bangku yang kududuki
saat ini menghadap langsung ke arah air mancur yang letaknya persis di tengah
taman. Bunga mekar berwarna-warni semakin mempercantik keberadaannya. Hmmm … tanpa sadar senyum ini
mengembang saat kuputar pandang menghadap langit yang bertabur bintang. Tentu
saja di sana ada Lunar. Begitu jelas dan begitu terang.
Malam
minggu ini begitu berwarna bagi muda-mudi kasmaran. Dan menjadi malam minggu
kelabu untukku. Namun, kelabu itu perlahan tersisih dan terganti oleh sinar
indah Lunar. Seindah warna pelangi seusai hujan. Lunar, bagai pelangi malam.
Andai saat ini aku ditemani seorang pangeran yang menemaniku memandang Lunar,
pastilah pelangi malam itu akan semakin indah dan memesona.
Aku
keluarkan buku kecil berwarna jingga dari tas rajut yang kubawa. Kutuliskan
beberapa kata yang merupakan curahan hatiku. Tentang dia yang selalu hadir
dalam mimpi indahku. Sebuah ungkapan rasa yang wajar dimiliki oleh setiap
manusia. Tak peduli tua maupun muda.
Lunar
…
Aku hanya manusia biasa
yang tak begitu istimewa
Aku tak pandai
merangkai kata indah
Aku pun tak pandai
mengungkap rasa
Namun, di dalam hati
ini ada cinta
Cinta yang tak ingin
kupendam lama
Cinta untuk dia yang di
sana
Dia yang selalu
berhasil membuatku gundah
Gundah memikirkan
balasan yang akan kuterima
Kelak jika dia
mengetahuinya
Lunar,
Ruang hatiku terisi
olehnya
Dia
…
Narendra …
Belum
sempat aku melanjutkan tulisanku, tiba-tiba buku kecil ini sudah berpindah
tangan ke tangan seorang pemuda
yang sangat kukenal. Aku tak sanggup berkata ketika tulisanku dibaca olehnya.
Aku tertegun dan jantung ini pun berdetak tak karuan. Dia tersenyum sembari
menulis jawaban atas apa yang dia baca.
Lunar,
Terima
kasih
telah menjadi sahabat untuk Riri
Terima
kasih
kau selalu mendengar curhatnya
Hingga kini aku
mengetahuinya
Lunar,
Aku pun ingin berbagi
rasa
Sesungguhnya aku pun
menaruh hati padanya
Itulah mengapa aku
selalu berusaha membuat harinya selalu indah
Seindah sinarmu yang
membuat malam begitu berwarna
Tuhan, izinkan aku
untuk bisa selalu menjaga dia
Dia yang saat ini duduk
bersamaku
Tulisan itu berakhir.
Dia memandang ke arahku sambil tersenyum manis. Seolah memberi sebuah isyarat
bahwa rasaku tak bertepuk sebelah tangan. Aku membalas senyum manisnya. Dan
malam ini, kami berdua bersama memandang Lunar si Pelangi Malam.***
Cerita Fiksi
Cerpen 'Lunar si Pelangi Malam' Lolos sebagai kontributor event Bulan oleh penerbit Ellunar Bandung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar