Sabtu, 07 November 2015

Cerpen 'Lunar si Pelangi Malam'



Lunar si Pelangi Malam
Oleh Indri Hapsari

            Lunar
            Selalu bertahta di langit malam disanding berjuta bintang. Sinar indahnya tak pernah pudar meski awan mendung terkadang menghalang. Keanggunannya begitu memesona. Membuat takjub setiap insan yang senantiasa penuh syukur atas ciptaan Tuhan.
Seperti biasa, aku duduk di depan teras rumah usai belajar. Aku rasa bersantai adalah pilihan terbaik untuk melepas penat. Ditemani secangkir teh hangat dan musik jazz yang sengaja kulirihkan volumenya membuat suasana malamku begitu nyaman. Apalagi malam ini langit begitu cerah. Hingga aku bisa leluasa memandang Lunar dengan berjuta bintang. Terkadang aku coba bercengkrama dengannya seolah bercerita pada manusia. Sesekali terlontar isi hati yang sengaja aku curhatkan padanya. Kini, Lunar bagai sahabat yang menemani kesendirianku serta mengisi ruang sepiku tatkala mentari telah terbenam.
Malam-malam berikutnya tetap kulakukan rutinitasku bersantai di depan sembari memandang Lunar. Namun, itu tak berlaku ketika malam minggu datang. Tak jauh dari rumahku banyak muda-mudi yang asyik dengan kegiatannya. Membuat kenyamanan dan ketenangan yang biasa kurasakan sedikit memudar. Hingga aku memilih untuk pergi ke taman kota. Meskipun di sana juga banyak muda-mudi, namun aku bisa merasakan kenyamananku kembali.
Aku duduk sendiri di bangku taman yang letaknya tepat berada di tengah taman. Lokasi tempat duduk yang kupilih lumayan menguntungkanku. Bangku yang kududuki saat ini menghadap langsung ke arah air mancur yang letaknya persis di tengah taman. Bunga mekar berwarna-warni semakin mempercantik keberadaannya. Hmmm tanpa sadar senyum ini mengembang saat kuputar pandang menghadap langit yang bertabur bintang. Tentu saja di sana ada Lunar. Begitu jelas dan begitu terang.
Malam minggu ini begitu berwarna bagi muda-mudi kasmaran. Dan menjadi malam minggu kelabu untukku. Namun, kelabu itu perlahan tersisih dan terganti oleh sinar indah Lunar. Seindah warna pelangi seusai hujan. Lunar, bagai pelangi malam. Andai saat ini aku ditemani seorang pangeran yang menemaniku memandang Lunar, pastilah pelangi malam itu akan semakin indah dan memesona.
Aku keluarkan buku kecil berwarna jingga dari tas rajut yang kubawa. Kutuliskan beberapa kata yang merupakan curahan hatiku. Tentang dia yang selalu hadir dalam mimpi indahku. Sebuah ungkapan rasa yang wajar dimiliki oleh setiap manusia. Tak peduli tua maupun muda.
Lunar
Aku hanya manusia biasa yang tak begitu istimewa
Aku tak pandai merangkai kata indah
Aku pun tak pandai mengungkap rasa
Namun, di dalam hati ini ada cinta
Cinta yang tak ingin kupendam lama
Cinta untuk dia yang di sana
Dia yang selalu berhasil membuatku gundah
Gundah memikirkan balasan yang akan kuterima
Kelak jika dia mengetahuinya
Lunar,
Ruang hatiku terisi olehnya
Dia … Narendra
Belum sempat aku melanjutkan tulisanku, tiba-tiba buku kecil ini sudah berpindah tangan ke tangan seorang pemuda yang sangat kukenal. Aku tak sanggup berkata ketika tulisanku dibaca olehnya. Aku tertegun dan jantung ini pun berdetak tak karuan. Dia tersenyum sembari menulis jawaban atas apa yang dia baca.
Lunar,
Terima kasih telah menjadi sahabat untuk Riri
Terima kasih kau selalu mendengar curhatnya
Hingga kini aku mengetahuinya
Lunar,
Aku pun ingin berbagi rasa
Sesungguhnya aku pun menaruh hati padanya
Itulah mengapa aku selalu berusaha membuat harinya selalu indah
Seindah sinarmu yang membuat malam begitu berwarna
Tuhan, izinkan aku untuk bisa selalu menjaga dia
Dia yang saat ini duduk bersamaku
            Tulisan itu berakhir. Dia memandang ke arahku sambil tersenyum manis. Seolah memberi sebuah isyarat bahwa rasaku tak bertepuk sebelah tangan. Aku membalas senyum manisnya. Dan malam ini, kami berdua bersama memandang Lunar si Pelangi Malam.

***
Cerita Fiksi
Cerpen 'Lunar si Pelangi Malam' Lolos sebagai kontributor event Bulan oleh penerbit Ellunar Bandung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar