Sabtu, 07 November 2015

Cerpen 'Idolaku'



Idolaku
Oleh Indri Hapsari

Tetes air rimbunan daun mahoni, jatuh membasahi tanah tempatnya tumbuh. Pohon dan semak nampak segar dibasahi air hujan. Air kehidupan, rahmat dan anugerah dari Dzat Yang Maha Bijak bagi semesta alam. Hujan memang sudah reda, namun hawa dingin masih saja terasa. Siang ini mentari menyembunyikan sinar indahnya dari dunia. Justru awan mendung yang bertahta di cakrawala. Aku lihat jam di tangan mungilku. 12.16, waktunya bagiku untuk istirahat makan siang. 
            Bergegas aku mengambil tas dan menentengnya keluar dari tempat kerjaku. “Fitri, aku akan istirahat untuk makan siang, aku kembali pukul 4 sore. Ada urusan penting. Selama aku tinggal, kamu dan yang lain kerja yang benar. Jangan terlalu lama beristirahat. Layani pelanggan dengan baik. Kalau sampai aku menemui kalian sedang bersantai-santai, kalian tidak akan segan-segan aku pecat. Ingat itu!”. “Baik Bu Ana.” jawab Fitri salah satu karyawan Restoran “Burger Ceria”. Ku langkahkan kaki menuju parkiran. Samar-samar aku dengar mereka mengutukku. Aku anggap itu hanya bualan. Hari ini aku tidak ingin berdebat. Mengingat kepalaku juga sedikit penat.
            Uhhhh…. Hari ini aku sial, ban mobilku kempes. Terpaksa aku harus pulang berjalan kaki. Rumahku hanya berjarak kurang lebih 1 km dari restoran milikku. Ayah selalu menyuruhku untuk membawa motor. Bagiku, repotasi dan penampilan juga penting. Supervisor restoran harus tetap berwibawa dan terlihat keren di mata karyawannya. Ayah memang tidak pernah memahamiku. Sepanjang jalan aku terus menggerutu. Sebal dengan nasib sial yang menimpaku hari ini. Batu-batu kerikil sempat aku tendang. Tiba-tiba “Tiiiiin Tiiin Tiiiin……” Sreeet…. Mobil melaju kencang dan membuat genangan air hujan di aspal jalanan menyembur ke arahku. “Huuuaaaaaaaa,.. basah, aku benar-benar sial hari ini”. Aku terus mengumpat, tak peduli perhatian orang disekitarku.
            “Astaghfirullah, maaf mbak, tolong dijaga lisannya. Ingat, ini tempat umum. Malu dilihat orang, mbak.” salah seorang pemuda memakai baju kokoh lengkap dengan sarung dan pecinya tiba-tiba menghampiriku. “Hei, siapa kamu?! Seenaknya saja berkata seperti itu. Kamu tau siapa saya? Saya ini Ana, pemilik restoran “Burger Ceria” anak dari Bapak Nugraha, konglomerat di kampung ini.” “Ya Allah, istighfar mbak Ana, jangan sombong seperti itu. Bersikaplah rendah hati seperti sikap Rosul Muhammad SAW. Sesungguhnya kekayaan itu milik Allah, mbak.” Sahut  pemuda. “Hei.. siapa kamu ini sampai berani berkata seperti itu?!” “Saya Vian, mbak.” jawab pemuda. “Hei..!! belum selesai aku bicara! Gaya bicaramu seperti ustad saja. Dasar, pergi sana!!” jawabku ketus. “Baiklah, maaf kalau saya mengganggu, permisi, Assalamu’alaikum.” Pemuda bernama Vian itu pun akhirnya pergi. Semoga aku tidak bertemu dengan dia lagi. Sebal
            Keesokan harinya “Ayah, hari ini tolong antarkan aku ke restoran ya?, mobilku kempes.” pintaku memohon. “Restoranmu itu dekat, tinggal jalan kaki sudah sampai. Sudah, jalan kaki saja.” jawab Ayah. “Malu Ayah, kemarin aku sudah jalan kaki.” “Sudah, cepat berangkat. Jalan kaki saja kenapa harus malu.” timpal Ayahku. Hmmm.. dengan terpaksa aku pun jalan kaki, aku memilih jalan memutar menghindari jalan raya. Takut tersembur air lagi.
            Aku melewati pesantren Baitul Amin yang namanya cukup tersohor di daerahku sayup-sayup terdengar shalawatan para santri. Semakin dekat langkah kakiku menuju pondok. Tiba-tiba aku melihat pemuda bernama Vian yang menghampiriku kemarin. Bergegas aku sembunyi dibalik pot bunga besar yang disandingkan di tembok pondok. Aku memperhatikan dia memarkir motornya dan memasuki pondok. “Kenapa aku sembunyi saat melihat Vian?” batinku.        Entah kenapa semenjak aku melihat Vian di pondok itu aku lebih memilih berjalan kaki melewati pondok menuju tempat kerjaku. Mobil mewah kebanggaanku aku parkir di rumah begitu saja. Setiap hari aku melewati pondok, begitu sampai, aku duduk di belakang pot bunga besar dan mengintip melalui celah tembok, memerhatikan Vian memberi ceramah kepada para santri. “Aku begitu penasaran dengan pemuda bernama Vian ini. Apa istimewanya dia?”
            “Saudara-saudaraku. Allah berfirman dalam Quran Surah Al-Anbiya ayat 107 “Tiadalah kami mengutus engkau (wahai Muhammad) melainkan untuk menjadi Rahmat bagi sekalian alam.  Dari ayat tersebut dapat kita maknai bahwa Nabi Muhammad merupakan Rahmat bagi sekalian alam. Beliau adalah pribadi yang mulya dan patut kita jadikan tauladan. Sekarang saya bertanya pada kalian. Siapa Idola kalian?” Tanya Vian pada para santri. “Hmm, tentu saja BoyBand dong, mereka keren dan tampan.” jawabku lirih “Bagus, Nabi Muhammad SAW adalah satu-satunya yang patut kita idolakan. Ahlak beliau sungguh sempurna, sifat-sifatnya yang agung dan mulya patut kita jadikan tauladan.” tutur Vian
 “Kenapa kamu tidak sependapat denganku Vian, sebal.” Tiba-tiba.. “Aaaaaaaaaaaahhh... siapa yang berani menyiramku hah? Huh, basah”. Aku tersiram air oleh salah seorang santri. Teriakku mengundang perhatian seisi pondok. “Maaf mbak, saya hendak menyiram tanaman di pot ini, saya tidak tahu kalau ada orang di sini. Lagi pula kenapa mbak bersembunyi di sana?” tanya santri tersebut. “Emm, itu,. eemm. aku..” Karena merasa malu dilihat oleh santri-santri pondok, termasuk juga Vian. Aku tidak melanjutkan perkataanku dan berlari begitu saja. Aku berlari tanpa melihat jalan di depanku. Dan, Brakkk….
Beberapa lama kemudian “Di mana aku?” tanyaku terbata, sadar akan goresan merah di dahiku. Eerrr.. Sakit.. “Mbak di ruang tamu Pondok.” sahut salah satu santri putri sambil membantuku duduk bersandar di sofa. “Kamu tadi pingsan, kamu lari begitu saja dan menabrak gerobak bakso di sana”. timpal suara pemuda dari daun pintu. Nampak senyum ramah tersirat di wajahnya. “Hah, Vian..?!” Kini aku ingat kejadian tadi. Sungguh memalukan sekali. Aku diam tak berkomentar. “Aku sering memerhatikanmu menguping di balik pot besar.” Sahut pemuda lain di samping Vian. “Syutt.. Maaf mbak, ini adik saya Fadil. Maaf atas perkataannya. Jangan berburuk sangka dulu Dil, siapa tahu mbak Ana ini ingin ikut mengaji. Bukan begitu mbak?!” tanya Vian padaku. Aku sedikit kikuk menjawab pertanyaannya, karena memang aku sendiri bingung atas semua yang aku lakukan. “ehmm,.. iya, aku suka mendengar cerita-ceritamu tentang Nabi Muhammad. Iya.. aku suka.. itu…, itu idolaku. Hehee, iya, idolaku.” Jawabanku benar-benar kikuk. Ohh..
“Baiklah, mari saya antar pulang mbak.” ajak Vian. “Biar aku saja Bang yang mengantarnya.” Fadil, adik Vian ikut bicara. “ Biar Abang saja ya. Kamu bersiap jadi imam sholat dhuhur saja. Fadil menurut saja dengan perkataan Vian. Meskipun kekecewaan tersirat jelas di wajahnya. Sepanjang perjalanan menuju rumahku kami mengobrol. Asyik.. Tapi, yang membuatku canggung, jarak kami sekitar 1 meter, haha.. bukan muhrim katanya. Tetap aku harus menghargainya.
Tak terasa kami sudah sampai di gerbang rumah mewahku. Derggh. Aku berhenti. Kenapa banyak orang di rumahku, Ada apa?! Aku berlari ke dalam rumah, diikuti Vian di belakangku. Ohh, ibu.. ibuku terbaring lemas di kasurnya. Wajahnya pucat, sedikit noda darah keluar dari hidungnya. Ayahku duduk di sampingnya. “ Ayah, apa yang terjadi pada ibu?!” Ayahku terdiam, hanya tetas air mata yang menjelaskan kesedihan di hatinya. “Ada apa ini?!” Tetap hening dan tak ada penjelasan. “Seseorang, jawab?! Bentakku dengan nada marah. Sontak, semua mata menuju ke arahku. Termasuk ibu. Ohh... Ibu terbatuk-batuk, berusaha bangun dan duduk. Ayah membantunya. “Tadi ibumu pingsan, tetangga-tetangga yang membantunya pulang nak”. Sahut Ayahku.  “Ana.. mendekatlah.” pinta ibuku. Aku mendekat. “Ana, ibu ingin sekali melihatmu menjadi anak solihah, berhijab, ramah dan menhormati siapa pun.” Uhuuk-uhuuk. “Ibu kenapa? Ibu sakit? kenapa tidak pernah cerita pada Ana, bu?” tanyaku. “Sudahlah jangan pedulikan ibu, ibu hanya ingin melihatmu bahagia anakku, tumbuh menjadi pribadi yang baik. Ramah, dan tidak sombong dengan kekayaan Ayahmu ini. Harta ini hanya titipan nak.” “Benar mbak Ana. Harta ini semua milik Allah, tidak ada gunanya menyombongkan diri. Tidak ada gunanya selalu marah. Contohlah idolamu mbak, Rosul Muhammad, sesunggunya beliau adalah suri tauladan yang baik.“ Vian ikut menyambung. Aku masih bingung dengan semua ini, kenapa mereka menasihatiku seperti itu. Berarti selama ini aku sungguh keji. Astaghfirullah. “Uhukk-Uhuk.” Ibuku terbatuk hebat, sebelum akhirnya jatuh pingsan. “Ibu… ibu bangun, ibu harus bangun. ibuuu”. Teriakku keras sambil terus menangis. “Cepat panggil dokter” suruh Ayahku pada pembantuku. “Ibu…, Ana janji akan menjadi anak baik bu,.. ibu,, bangun..” tangisku tersedu. “Sudah mbak, ibu mbak hanya pingsan, semua akan kembali baik seperti semula.” Hibur Vian. “Ayah, kenapa tidak membawa ibu ke rumah sakit saja?” tanyaku “emm, itu.. itu tidak perlu Ana, biar dokter saja yang ke sini. sekarang tenangkan dirimu. Tolong temani Ana ya nak Vian.”
Uhh.. Dadaku sesak, melihat wajah Ibu yang pucat. Kasihan.. Memang kondisinya sedikit membaik. Namun, yang jadi pertanyaanku hingga saat ini yakni tentang penyakit ibuku. Tak ada penjelasan yang harusnya aku dapatkan. Mereka semua bungkam. Biarlah. Yang penting ibuku sembuh. Sudah seminggu sejak peristiwa itu. Dan sudah seminggu pula aku ikut mengaji di Pondok. Bedanya aku tidak lagi sembunyi di balik pot bunga besar. Kini aku bersama santri lain mendengar kisah-kisah teladan idolaku. Iya, idolaku. Kini benar-benar menjadi idolaku. Nabi Muhammad SAW.
“Ibu, hati ini teduh. Ana belajar banyak selama di pondok, Ana sadar marah bukanlah sikap yang tepat untuk sebuah masalah. Ana merasa bersalah pada karyawan-karyawan Ana di restoran. Ana selalu memarahi mereka. Ana bukanlah pemimpin yang baik. Ana ingin seperti idola Ana. Beliau mampu menjadi pemimpin yang menjadi panutan. Dengan 4 sifatnya, Siddiq, Amanah, Tabligh, Fathonah. InsyaAllah Ana akan meneladaninya di setiap langkah Ana.” tuturku pada ibu yang pada saat itu terbaring di tempat tidur di temani Ayah. Hari ini di rumahku ada Vian, Fadil, dan beberapa santri lain. Mereka datang menjenguk ibuku. “Ana, ada yang ingin ibu dan Ayahmu akui.” jelas ibu. Dahiku megerut heran. Hati dan pikiran penuh tanda tanya. “Apa itu bu?” tanyaku. “Sebenarnya ibu tidak sakit nak, ibu dan Ayah hanya bersandiwara. Kami sempat putus asa melihat pribadimu yang menurut kami tidak pantas. Akhirnya kami mengambil cara ini. Maaf ya Ana.” “Iya, Ayah juga minta maaf, tapi yang terpenting sekarang anak Ayah sudah berubah, Ayah dan ibu bangga Ana.” Sempat heran dengan penjelasan ini. Namun akhirnya tawaku pecah, senyumku berkembang. “Syukurlah. Ana lega ini semua hanya sandiwara. Pantas Ayah menolak membawa ibu ke rumah sakit. Ana juga senang Ana bisa berubah seperti ini. Ehemm.. ini juga berkat Vian.” aku tersenyum. “Bukan mbak, ini karena rahmat Allah” timpal Vian. “ehem.. jangan terlalu lama memandang Bang Vian mbak, bukan muhrim. Lagi pula Bang Vian sebentar lagi akan menikah dengan anak kyai Wahid.” Jelas Fadil. Apa? sudah mau menikah?! sedikit tercabik hati ini. Uhh.. “Ibu dan Ayah cocok dengan Fadil Ana, dia juga pemuda soleh, kami yakin dia bisa membimbingmu dan mengajarimu meneladani idolamu.” Aku tersenyum, senyum bahagia, ku pandangi Ayah, Ibu, Vian, dan… Fadil. :) Idolaku. Nabi Muhammad SAW.

***
Cerita Fiksi
Cerpen 'Idolaku' Juara 2 dalam Lomba Menulis Cerita Islami oleh UKKI MASA FKIP UNEJ tahun 2014. Dimuat dalam antologi Survive Dewan Kesenian Lumajang tahun 2014 dan dimuat di majalah SUARA PGRI Lumajang. 
:)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar