Idolaku
Oleh Indri Hapsari
Tetes air rimbunan
daun mahoni, jatuh membasahi tanah tempatnya tumbuh. Pohon dan semak nampak
segar dibasahi air hujan. Air kehidupan, rahmat dan anugerah dari Dzat Yang
Maha Bijak bagi semesta alam. Hujan memang sudah reda, namun hawa dingin masih
saja terasa. Siang ini mentari menyembunyikan sinar indahnya dari dunia. Justru
awan mendung yang bertahta di cakrawala. Aku lihat jam di tangan mungilku.
12.16, waktunya bagiku untuk istirahat makan siang.
Bergegas
aku mengambil tas dan menentengnya keluar dari tempat kerjaku. “Fitri, aku akan
istirahat untuk makan siang, aku kembali pukul 4 sore. Ada urusan penting.
Selama aku tinggal, kamu dan yang lain kerja yang benar. Jangan terlalu lama
beristirahat. Layani pelanggan dengan baik. Kalau sampai aku menemui kalian
sedang bersantai-santai, kalian tidak akan segan-segan aku pecat. Ingat itu!”.
“Baik Bu Ana.” jawab Fitri salah satu karyawan Restoran “Burger Ceria”. Ku langkahkan
kaki menuju parkiran. Samar-samar aku dengar mereka mengutukku. Aku anggap itu
hanya bualan. Hari ini aku tidak ingin berdebat. Mengingat kepalaku juga
sedikit penat.
Uhhhh….
Hari ini aku sial, ban mobilku kempes. Terpaksa aku harus pulang berjalan kaki.
Rumahku hanya berjarak kurang lebih 1 km dari restoran milikku. Ayah selalu
menyuruhku untuk membawa motor. Bagiku, repotasi dan penampilan juga penting.
Supervisor restoran harus tetap berwibawa dan terlihat keren di mata
karyawannya. Ayah memang tidak pernah memahamiku. Sepanjang jalan aku terus
menggerutu. Sebal dengan nasib sial yang menimpaku hari ini. Batu-batu kerikil
sempat aku tendang. Tiba-tiba
“Tiiiiin Tiiin Tiiiin……” Sreeet…. Mobil melaju kencang dan membuat genangan air
hujan di aspal jalanan menyembur ke arahku. “Huuuaaaaaaaa,.. basah, aku
benar-benar sial hari ini”. Aku terus mengumpat, tak peduli perhatian orang
disekitarku.
“Astaghfirullah,
maaf mbak, tolong dijaga lisannya. Ingat, ini tempat umum. Malu dilihat orang,
mbak.” salah seorang pemuda memakai baju kokoh lengkap dengan sarung dan pecinya
tiba-tiba menghampiriku. “Hei, siapa kamu?! Seenaknya saja berkata seperti itu.
Kamu tau siapa saya? Saya ini Ana, pemilik restoran “Burger Ceria” anak dari
Bapak Nugraha, konglomerat di kampung ini.” “Ya Allah, istighfar mbak Ana,
jangan sombong seperti itu. Bersikaplah rendah hati seperti sikap Rosul
Muhammad SAW. Sesungguhnya kekayaan itu milik Allah, mbak.” Sahut pemuda. “Hei.. siapa kamu ini sampai berani
berkata seperti itu?!” “Saya Vian, mbak.” jawab pemuda. “Hei..!! belum selesai
aku bicara! Gaya bicaramu seperti ustad saja. Dasar, pergi sana!!” jawabku
ketus. “Baiklah, maaf kalau saya mengganggu, permisi, Assalamu’alaikum.” Pemuda
bernama Vian itu pun akhirnya pergi. Semoga aku tidak bertemu dengan dia lagi.
Sebal
Keesokan harinya “Ayah, hari ini tolong
antarkan aku ke restoran ya?, mobilku kempes.” pintaku memohon. “Restoranmu itu
dekat, tinggal jalan kaki sudah sampai. Sudah, jalan kaki saja.” jawab Ayah.
“Malu Ayah, kemarin aku sudah jalan kaki.” “Sudah, cepat berangkat. Jalan kaki
saja kenapa harus malu.” timpal Ayahku. Hmmm.. dengan terpaksa aku pun jalan
kaki, aku memilih jalan memutar menghindari jalan raya. Takut tersembur air
lagi.
Aku
melewati pesantren Baitul Amin yang namanya cukup tersohor di daerahku
sayup-sayup terdengar shalawatan para santri. Semakin dekat langkah kakiku
menuju pondok. Tiba-tiba aku melihat pemuda bernama Vian yang menghampiriku
kemarin. Bergegas aku sembunyi dibalik pot bunga besar yang disandingkan di
tembok pondok. Aku memperhatikan dia memarkir motornya dan memasuki pondok.
“Kenapa aku sembunyi saat melihat Vian?” batinku. Entah kenapa semenjak aku melihat Vian di pondok itu aku
lebih memilih berjalan kaki melewati pondok menuju tempat kerjaku. Mobil mewah
kebanggaanku aku parkir di rumah begitu saja. Setiap hari aku melewati pondok,
begitu sampai, aku duduk di belakang pot bunga besar dan mengintip melalui
celah tembok, memerhatikan Vian memberi ceramah kepada para santri. “Aku begitu
penasaran dengan pemuda bernama Vian ini. Apa istimewanya dia?”
“Saudara-saudaraku.
Allah berfirman dalam Quran Surah Al-Anbiya ayat 107 “Tiadalah kami mengutus
engkau (wahai Muhammad) melainkan untuk menjadi Rahmat bagi sekalian alam. Dari ayat tersebut dapat kita maknai bahwa
Nabi Muhammad merupakan Rahmat bagi sekalian alam. Beliau adalah pribadi yang
mulya dan patut kita jadikan tauladan. Sekarang saya bertanya pada kalian.
Siapa Idola kalian?” Tanya Vian pada para santri. “Hmm, tentu saja BoyBand
dong, mereka keren dan tampan.” jawabku lirih “Bagus, Nabi Muhammad SAW adalah
satu-satunya yang patut kita idolakan. Ahlak beliau sungguh sempurna,
sifat-sifatnya yang agung dan mulya patut kita jadikan tauladan.” tutur Vian
“Kenapa kamu tidak sependapat denganku Vian,
sebal.” Tiba-tiba.. “Aaaaaaaaaaaahhh...
siapa yang berani menyiramku hah? Huh, basah”. Aku tersiram air oleh salah
seorang santri. Teriakku mengundang perhatian seisi pondok. “Maaf mbak, saya
hendak menyiram tanaman di pot ini, saya tidak tahu kalau ada orang di sini.
Lagi pula kenapa mbak bersembunyi di sana?” tanya santri tersebut. “Emm, itu,.
eemm. aku..” Karena merasa malu dilihat oleh santri-santri pondok, termasuk
juga Vian. Aku tidak melanjutkan perkataanku dan berlari begitu saja. Aku
berlari tanpa melihat jalan di depanku. Dan, Brakkk….
Beberapa lama kemudian “Di mana aku?”
tanyaku terbata, sadar akan goresan merah di dahiku. Eerrr.. Sakit.. “Mbak di
ruang tamu Pondok.” sahut salah satu santri putri sambil membantuku duduk
bersandar di sofa. “Kamu tadi pingsan, kamu lari begitu saja dan menabrak
gerobak bakso di sana”. timpal suara pemuda dari daun pintu. Nampak senyum
ramah tersirat di wajahnya. “Hah, Vian..?!” Kini aku ingat kejadian tadi.
Sungguh memalukan sekali. Aku diam tak berkomentar. “Aku sering memerhatikanmu
menguping di balik pot besar.” Sahut pemuda lain di samping Vian. “Syutt.. Maaf
mbak, ini adik saya Fadil. Maaf atas perkataannya. Jangan berburuk sangka dulu
Dil, siapa tahu mbak Ana ini ingin ikut mengaji. Bukan begitu mbak?!” tanya
Vian padaku. Aku sedikit kikuk menjawab pertanyaannya, karena memang aku
sendiri bingung atas semua yang aku lakukan. “ehmm,.. iya, aku suka mendengar
cerita-ceritamu tentang Nabi Muhammad. Iya.. aku suka.. itu…, itu idolaku.
Hehee, iya, idolaku.” Jawabanku benar-benar kikuk. Ohh..
“Baiklah, mari saya
antar pulang mbak.” ajak Vian. “Biar aku saja Bang yang mengantarnya.” Fadil,
adik Vian ikut bicara. “ Biar Abang saja ya. Kamu bersiap jadi imam sholat
dhuhur saja. Fadil menurut saja dengan perkataan Vian. Meskipun kekecewaan tersirat
jelas di wajahnya. Sepanjang perjalanan menuju rumahku kami mengobrol. Asyik..
Tapi, yang membuatku canggung, jarak kami sekitar 1 meter, haha.. bukan muhrim
katanya. Tetap aku harus menghargainya.
Tak terasa kami sudah
sampai di gerbang rumah mewahku. Derggh. Aku berhenti. Kenapa banyak orang di
rumahku, Ada apa?! Aku berlari ke dalam rumah, diikuti Vian di belakangku. Ohh,
ibu.. ibuku terbaring lemas di kasurnya. Wajahnya pucat, sedikit noda darah
keluar dari hidungnya. Ayahku duduk di sampingnya. “ Ayah, apa yang terjadi
pada ibu?!” Ayahku terdiam, hanya tetas air mata yang menjelaskan kesedihan di
hatinya. “Ada apa ini?!” Tetap hening dan tak ada penjelasan. “Seseorang, jawab?!
Bentakku dengan nada marah. Sontak, semua mata menuju ke arahku. Termasuk ibu.
Ohh... Ibu terbatuk-batuk, berusaha bangun dan duduk. Ayah membantunya. “Tadi
ibumu pingsan, tetangga-tetangga yang membantunya pulang nak”. Sahut Ayahku. “Ana.. mendekatlah.” pinta ibuku. Aku
mendekat. “Ana, ibu ingin sekali melihatmu menjadi anak solihah, berhijab,
ramah dan menhormati siapa pun.” Uhuuk-uhuuk. “Ibu kenapa? Ibu sakit? kenapa
tidak pernah cerita pada Ana, bu?” tanyaku. “Sudahlah jangan pedulikan ibu, ibu
hanya ingin melihatmu bahagia anakku, tumbuh menjadi pribadi yang baik. Ramah,
dan tidak sombong dengan kekayaan Ayahmu ini. Harta ini hanya titipan nak.” “Benar
mbak Ana. Harta ini semua milik Allah, tidak ada gunanya menyombongkan diri.
Tidak ada gunanya selalu marah. Contohlah idolamu mbak, Rosul Muhammad,
sesunggunya beliau adalah suri tauladan yang baik.“ Vian ikut menyambung. Aku
masih bingung dengan semua ini, kenapa mereka menasihatiku seperti itu. Berarti
selama ini aku sungguh keji. Astaghfirullah. “Uhukk-Uhuk.” Ibuku terbatuk
hebat, sebelum akhirnya jatuh pingsan. “Ibu… ibu bangun, ibu harus bangun.
ibuuu”. Teriakku keras sambil terus menangis. “Cepat panggil dokter” suruh
Ayahku pada pembantuku. “Ibu…, Ana janji akan menjadi anak baik bu,.. ibu,,
bangun..” tangisku tersedu. “Sudah mbak, ibu mbak hanya pingsan, semua akan
kembali baik seperti semula.” Hibur Vian. “Ayah, kenapa tidak membawa ibu ke
rumah sakit saja?” tanyaku “emm, itu.. itu tidak perlu Ana, biar dokter saja yang
ke sini. sekarang tenangkan dirimu. Tolong temani Ana ya nak Vian.”
Uhh.. Dadaku sesak,
melihat wajah Ibu yang pucat. Kasihan.. Memang kondisinya sedikit membaik.
Namun, yang jadi pertanyaanku hingga saat ini yakni tentang penyakit ibuku. Tak
ada penjelasan yang harusnya aku dapatkan. Mereka semua bungkam. Biarlah. Yang
penting ibuku sembuh. Sudah seminggu sejak peristiwa itu. Dan sudah seminggu
pula aku ikut mengaji di Pondok. Bedanya aku tidak lagi sembunyi di balik pot
bunga besar. Kini aku bersama santri lain mendengar kisah-kisah teladan
idolaku. Iya, idolaku. Kini benar-benar menjadi idolaku. Nabi Muhammad SAW.
“Ibu, hati ini teduh. Ana belajar banyak selama
di pondok, Ana sadar marah bukanlah sikap yang tepat untuk sebuah masalah. Ana
merasa bersalah pada karyawan-karyawan Ana di restoran. Ana selalu memarahi
mereka. Ana bukanlah pemimpin yang baik. Ana ingin seperti idola Ana. Beliau
mampu menjadi pemimpin yang menjadi panutan. Dengan 4 sifatnya, Siddiq, Amanah,
Tabligh, Fathonah. InsyaAllah Ana akan meneladaninya di setiap langkah Ana.”
tuturku pada ibu yang pada saat itu terbaring di tempat tidur di temani Ayah.
Hari ini di rumahku ada Vian, Fadil, dan beberapa santri lain. Mereka datang
menjenguk ibuku. “Ana, ada yang ingin ibu dan Ayahmu akui.” jelas ibu. Dahiku
megerut heran. Hati dan pikiran penuh tanda tanya. “Apa itu bu?” tanyaku.
“Sebenarnya ibu tidak sakit nak, ibu dan Ayah hanya bersandiwara. Kami sempat
putus asa melihat pribadimu yang menurut kami tidak pantas. Akhirnya kami
mengambil cara ini. Maaf ya Ana.” “Iya, Ayah juga minta maaf, tapi yang
terpenting sekarang anak Ayah sudah berubah, Ayah dan ibu bangga Ana.” Sempat
heran dengan penjelasan ini. Namun akhirnya tawaku pecah, senyumku berkembang.
“Syukurlah. Ana lega ini semua hanya sandiwara. Pantas Ayah menolak membawa ibu
ke rumah sakit. Ana juga senang Ana bisa berubah seperti ini. Ehemm.. ini juga
berkat Vian.” aku tersenyum. “Bukan mbak, ini karena rahmat Allah” timpal Vian.
“ehem.. jangan terlalu lama memandang Bang Vian mbak, bukan muhrim. Lagi pula Bang
Vian sebentar lagi akan menikah dengan anak kyai Wahid.” Jelas Fadil. Apa?
sudah mau menikah?! sedikit tercabik hati ini. Uhh.. “Ibu dan Ayah cocok dengan
Fadil Ana, dia juga pemuda soleh, kami yakin dia bisa membimbingmu dan
mengajarimu meneladani idolamu.” Aku tersenyum, senyum bahagia, ku pandangi
Ayah, Ibu, Vian, dan… Fadil. :)
Idolaku. Nabi Muhammad SAW.***
Cerita Fiksi
Cerpen 'Idolaku' Juara 2 dalam Lomba Menulis Cerita Islami oleh UKKI MASA FKIP UNEJ tahun 2014. Dimuat dalam antologi Survive Dewan Kesenian Lumajang tahun 2014 dan dimuat di majalah SUARA PGRI Lumajang.
:)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar