Senin, 23 November 2015

Puisi 'Rintihan Beban'

Rintihan Beban
Oleh : Indri Hapsari

Bukanlah pilihanku
Bergelut pikir dengan logikaku
Meratap hingga mengeluh

Diriku hanya merapuh
Merintih dalam sendu
Bersebab duka dan pilu yang mencandu
Hingga terjebak dalam bilik syahdu
Hatiku pun menderu-deru
Menciutkan semangatku
Mengobarkan keputusasaanku

Beban hidup ini tak seharusnya kuratapi
Sungguh perlu tuk memilah dan memilih
Berjuang menemukan jati diri
Memilih ikhtiar sebagai jalan kunci

Meski dunia teramat kelam tanpa bintang dan rembulan
Sosok mentari tetap terdamba dan terindukan
Tak peduli harus terbelenggu dalam penantian
Demi suatu kebahagiaan
Untukku
Mimpi-mimpiku
Masa depanku


Lumajang, 22 April 2015

Jumat, 20 November 2015

Cerpen 'Kutemukan Diriku'

Kutemukan Diriku
Oleh Indri Hapsari

            Selingkuh bukanlah jalan tunggal untuk mengejar kesempurnaan
            Jika kau memilih jalan itu, maka kau hanya akan terus mengejar
            Karena kesempurnaan hanya milik Dia Yang Maha Sempurna
           
            Abel berhenti menulis. Perlahan ditatapnya tulisan tersebut. Dia terpaku dalam diam. Satu detik, dua detik, hingga satu menit pun berlalu dan dia masih saja terdiam. Tiba-tiba mata indahnya memerah dan air mata yang sangat berharga itu akhirnya tumpah. Awalnya hanya bulir-bulir halus yang mengalir tanpa suara. Namun, dia tak kuasa dan mulai terisak. Hingga dia menyadari suara pintu kamarnya yang terbuka.
            “Bel, kamu masih sedih?” tanya Eka sembari mendekatinya.
            “Iya.” Jawab Abel singkat.
            “Kalau begitu silakan menangis sepuas hatimu.” Tutur Eka.
“Kamu ini bagaimana sih? Sebagai sahabat yang baik harusnya kamu menghibur aku. Agar aku tidak sedih lagi. Agar aku tidak menangis lagi. Agar aku tidak terpuruk dan larut dalam dilema ini.” Cerocos Abel.
“Hahaha … ini dia Abel yang aku kenal. Cerewet ….” Ejek Eka.
Abel manyun, membuang pandang dari Eka dan kembali menatap tulisan yang dibuatnya tadi. Eka tertarik untuk mengintip isi tulisan yang dipegang oleh Abel.
“Bel, jika kamu masih sedih jangan ragu untuk menangis. Luapkan semua perih di hatimu. Menangislah sekarang agar bebanmu teringankan. Setelah itu jangan kamu menangis lagi karena Rio. Meratapi kisah masa lalu tidak akan membuat dirimu lebih baik. Kamu harus move on.” Nasihat Eka pada Abel.
“Kamu benar. Aku tak boleh terus terperangkap dalam kesedihan ini. Banyak hal yang masih bisa kulakukan tanpa dia. Akan kubuat diri ini lebih berguna.” Tutur Abel mantap.
Diraihnya bolpoin yang masih tergeletak di atas meja belajarnya. Abel kembali menulis. Setelah selesai dirobeknya kertas tersebut lalu dia tempel di sudut atas kaca riasnya.
Move on? Siapa takut!” Eka membaca tulisan yang baru saja dibuat Abel. Eka tersenyum. Ditepuknya pundak Abel sembari berkata, “Semangat kawan.”
Abel memiliki tekad yang kuat. Dia melakukan beragam cara demi kesuksesan rencananya. Dia menyibukkan diri dengan beragam aktifitas. Mencoba hal-hal baru yang belum pernah dia lakukan. Tentu saja dengan dukungan sahabatnya yang setia, Eka. Awalnya semua yang dilakukan Abel masih wajar. Hingga suatu hari Abel terlihat sangat berbeda.
“Bel, ada apa dengan penampilanmu sekarang ini?” tanya Eka terheran.
“Ini gaya terbaru yang sedang mendunia. Aku juga mencoba berbagai macam tat arias wajah. Coba kamu perhatikan. Bagaimana menurutmu?” tanya Abel dengan riangnya.
“Bel, aku mendukung semua yang kamu lakukan sebelum ini. Kamu belajar menyulam, memasak, hingga merangkai bunga. Itu semua hal baru yang dapat mengembangkan bakat dan kepribadianmu. Namun, untuk kali aku tidak setuju. Dandanan yang berlebihan ini sama sekali bukan kamu. Kamu memang harus move on, tapi tetaplah menjadi dirimu sendiri.” Tutur Eka menasihati.
“Eka, tidak ada larangan bagi seseorang untuk mencoba hal baru.” Abel membela diri.
“Benar, tapi tidak perlu berlebihan seperti ini. Ini bukan Abel yang kukenal. Berubah bukan berarti kamu harus menjadi orang lain. Kesederhanaan dan kesahajaan dalam dirimu saja sudah cukup. Daripada melakukan hal-hal yang aneh lebih baik kamu mengembangkan bakat terpendam dalam dirimu.” Tegas Eka.
“Apa? Tak ada yang istimewa dariku.” Tutur Abel.
“Bel, bukankah kamu suka menulis. Beberapa kali aku terkagum dengan rangkaian kata yang kamu buat. Aku kira itulah bakat yang harus kamu kembangkan.” Tutur Eka.
“Apa aku bisa? Selama ini yang aku tulis hanyalah kesedihan.” Sahut Abel.
“Kalau begitu ubahlah menjadi suatu kebahagiaan.” Jelas Eka.
“Kenapa seperti itu?” tanya Abel tak mengerti.
“Karena dalam kehidupan, manis dan pahit terkadang silih berganti memberi rasa dan mewarnai hidupmu. So, Jangan hanya kesedihan, ukirlah kebahagiaan dan setiap kisah hidupmu di atas kertas.” Tutur Eka bijak.
Abel memeluk sahabatnya. Air matanya kembali mengalir. Dia sempat putus asa dengan semua usahanya. Move on memang mengharuskan diri untuk kembali berdiri tegar setelah terbelenggu dalam keterpurukan. Namun, move on tidak mengharuskan pelakunya untuk menjadi orang lain hingga lupa akan jati dirinya. Kini Abel mengerti apa yang harus dia lakukan. Berusaha bangkit namun tetap menjadi diri sendiri.
Abel berdiri di depan cermin. Ditatapnya tulisan yang tertempel di sudut atas cermin riasnya. Sempat dia termenung lama. Melawan suasana hati yang berkecambuk. Sempat pula terlintas bayang-bayang kesedihan masa lalunya. Namun. dia tak lagi larut dalam kesedihan.
Abel mengambil bolpoin miliknya dan mulai bermain dengan kata. Dia menuliskan kisahnya dalam sebuah cerita singkat. Cara ini ternyata membantunya untuk melawan kesedihan saat dia kambali menyusuri kisah masa lalunya. Rupanya hal ini cukup membuatnya bahagia. Hingga dia terbiasa untuk menulis dan berkisah. Kini, telah banyak cerita yang dia hasilkan. Bukan hanya cerita kesedihan, melainkan juga kebahagiaan dan petualangan. Tak jarang Eka terkagum-kagum dengan cerita yang dibuat Abel. Hingga suatu hari Eka datang dengan sebuah kabar yang mampu mengubah hidupnya.
“Abel, aku punya sesuatu untukmu.” Tutur Eka.
“Amplop? Apa isinya? Apa aku akan sedih saat mengetahui isinya? Atau aku akan terkejut lalu pingsan?” tanya Abel beruntun.
“Kamu ini memang cerewet. Sudah, buka saja.” Sahut Eka sembari tersenyum.
Abel terkejut ketika mengetahui isi amplop tersebut.
“Selamat ya, Bel. Jangan pingsan. Hehe ….” Tutur Eka sembari mencubit pipinya.
“Bagaimana bisa? Aku menjadi juara pertama dalam kontes penulis muda. Ini … tak bisa kupercaya.” Tutur Abel terheran.
“Aku diam-diam mengirimkan cerita yang kamu buat kepada pihak penyelenggara lomba. Sekitar sepuluh hari yang lalu. Maaf, aku tidak meminta izin darimu.” Ucap Eka.
“Kamu tidak perlu meminta maaf. Justru aku yang harus berterima kasih kepadamu. Karena dukunganmu aku bisa cepat move on dari masa lalu yang membayangiku. Dan karena kamu pula aku bisa menemukan bakat terpendamku, jati diriku.” Tegas Abel.
“Tidak, ini semua karena usahamu. Tekadmu memang luar biasa. Aku bangga padamu, Bel. Apakah kamu sudah lupa dengan kisah pahit masa lalumu itu?” tanya Eka.
“Aku tidak lupa. Aku tidak akan pernah melupakannya. Karena aku butuh menengok ke belakang agar bisa lebih berhati-hati di masa depan.” Tutur Abel bijak.
“Bagus. Itulah Abel yang aku kenal. So ….” Eka menghentikan kata-katanya. Dia melirik Abel. Kemudian dengan serempak mereka berkata, “Sukses. Yee ….”
Tak ada kisah yang sia-sia. Semua pasti mengandung hikmah yang bisa menjadikan diri lebih bijaksana. Patah hati memang menyakitkan. Namun, akan lebih menyakitkan lagi jika terus terjebak dalam keterpurukan. So, Move on? Siapa takut! 
***

Cerita Fiksi
Januari  2015

Jumat, 13 November 2015

Cerpen 'Kala Sepi Menyapa Hati'

Kala Sepi Menyapa Hati
Oleh Indri Hapsari

            Pemandangan langit malam yang begitu suram membuat suasana kian mencekam. Bukan merasakan hadirnya penampakan, melainkan hanya sebuah bisikan malam yang tak mampu memberi kedamaian. Langit memang bertabur bintang. Bulan sabit pun menggantung memberi senyum menawan. Namun pancaran kehangatan yang biasa menemani malam terhalang oleh awan. Sinar yang selalu menghias kini telah pudar.
            Langit tak terlihat riang. Begitu pula dengan hati yang kurasakan. Sedihkah hati ini? Tidak! Sakitkah hati ini? Tidak! Lalu apa? Entahlah …. Aku tak tahu pasti. Hanya satu yang aku mengerti. Hati ini terasa begitu sunyi. Sepi.
Malam ini aku hadir ke pesta ulang tahun teman sekelasku. Dia bukanlah teman akrabku. Hanya seorang teman yang sekedar kenal. Ada tidaknya aku di pesta itu akan tetap sama. Tak berarti apa-apa.
            Aku datang sembari menenteng sebuah bingkisan bercorak bunga. Di dalamnya ada sebuah kado untuk dia yang saat ini tengah menyukuri pertambahan usia. Balon dan kertas warna-warni terhias dimana-mana. Kue tart besar berbalut cream coklat tengah terpajang di tengah ruangan. Satu per satu teman berdatangan dengan ucapan serta bingkisan.
Teman? Iya, mereka yang ada di sini adalah teman. Jumlah mereka hampir memenuhi ruangan. Semua terlihat begitu riang. Namun, entah kenapa keriangan itu tak mampu kurasakan. Memang, cahaya kegembiraan itu sempat terpancar. Namun hadirnya tak begitu terang. Tak mampu meninggalkan kesan, hingga tertutup kembali oleh gumpaalan awan.
            Aku berada bersama mereka. Teman-teman yang telah larut dalam kegembiraan. Aku bagai patahan ranting yang berada di tengah padang rumput berbunga. Tak berarti apa-apa. Kala hembusan angin yang menyejukkan datang, rumput pun bergoyang. Larut dalam buaian. Sementara keberadaan ranting di tengah sana sungguh terabaikan.
            Suguhan-suguhan permainan ditampilkan untuk menghibur hati para undangan. Canda dan tawa telah singgah dan menyatu di hati mereka. Tapi …. Mengapa? Apa yang salah? Aku tak mampu turut merasakan kebahagiaan mereka. Mereka semua teman teman yang kukenal. Tapi aku merasa asing di tempat ini. Mereka terlihat riang. Sementara aku hanya bungkam. Larut dalam kesunyian.
            Adakah yang menyadari kehadiranku di sini? Jika ada tolonglah. Tolong tepiskan sepi yang tengah meyapa hati ini. Kenapa? Kenapa kalian tak ingin berbagi rasa yang kalian nikmati? Aku begitu iri dengan semua ini.
Batin ini terus teracuni oleh beragam tanya yang menghantui jiwa. Tak ada satu pun dari mereka yang menyapa sepiku. Sungguh dua jam terasa sebulan. Begitu lama.  Ketika suasana pesta semakin bercahaya, hatiku malah gelisah. Entah berapa lama aku terjebak dalam sepi. Saat tersadar aku telah menerima souvenir dari pesta barusan. Aku telah sadar, meski sebelumnya aku tak pingsan. Aku tersadar dan kembali pada kenyataan.
            Pestanya sudah selesai. Aku mendapat buah tangan berupa lilin mainan yang bisa bercahaya. Lilin mainan yang menurut teman-temanku terlihat lucu. Lucu? Tidak! Karena benda itu tak bisa membuatku tertawa. Aku pun yakin cahayanya tak mampu memberi sinar pada hatiku.
Aku pulang sendirian, hingga aku berjumpa dengan Manda. Dia adalah teman dekatku yang selalu mendengar keluh kesah kehidupanku. Sayangnya kita berbeda sekolah.
“Rin, kamu beruntung. Aku dengar di sekolahmu banyak yang bersaing mendapatkan hatimu” Tutur Manda memcoba memecah keheningan.
“Biarkan saja mereka.” Tuturku sembari tetap berjalan.
“Kamu kenapa berubah dingin begini sih ? Apa karena mantan kamu yang ….”
“Sstt … Sudah. Aku pulang dulu. Kamu hati-hati di jalan.”
Aku membuat Manda menghentikan penuturannya. Kami berpisah jalan. Manda menatapku dari kejauhan. Tatapan iba atas sikapku yang menurutnya telah berubah. Benar. Aku memang telah berubah. Aku yang dulunya penuh tawa kini selalu gundah.
Hatiku telah tersakiti. Begitu sakit hingga aku tak lagi mampu merasakan deritanya. Semua terasa hampa. Luka itu memang telah begitu lama. Namun menghilangkan bekasnya sungguh susah. Untuk sebuah hati yang telah tersakiti, keadaan ini sulit untuk diobati.. Aku tak tahu sampai kapan akan seperti ini. Hanya satu yang kumengerti, hati ini begitu sunyi. Sepi itu telah menyapa hati.  
Ada sebuah pesan yang dapat membangunkan diri dari kehampaan. Ingatlah asa dan  impianmu. Bangkitlah dan raih cita-citamu. Jangan biarkan dirimu larut dalam keheningan dan keputusasaan. Jangan biarkan diri terjebak dalam sepi hanya karena sebuah luka yang sulit terobati. Jadikan masa lalumu sebagai cermin untuk lebih berhati-hati di masa depan. Senyatanya, diri kita tidaklah sendiri. Ada tempat untuk kita berbagi. Bersimpuh dan agungkan nama-Nya. Niscaya dengan kuasa-Nya semua akan dijadikan begitu mudah.
           
***
Cerita Fiksi
Januari  2015

Sabtu, 07 November 2015

Makna Cinta Menurut Hapsari

Bagiku cinta merupakan rasa yang tertanam indah dalam kalbu. Gejolak jiwa yang menguntai merdu dan mencandu. Cinta tak hanya tentang bahagia, mematri janji setia ataupun sekedar kekaguman biasa. Namun cinta juga tentang ibadah, mensyukuri nikmat Tuhan yang telah memberi anugerah.

Cerpen 'Dua Kunci'



Dua Kunci 
Oleh Indri Hapsari

         Udara pagi yang menyegarkan menjadi tombak semangat bagi setiap insan dalam melakoni kewajiban. Bersimpuh khidmat sembari memuji asma Yang Maha Terpuji. Tunduk dengan segala kerendahan hati. Rangkaian doa yang tercurah pada Ilahi Rabbi. Senantiasa mengharap belas kasih agar segala khilaf dapat terampuni.   
Pak Ihsan duduk di serambi depan rumahnya. Ia masih mengenakan sarung dan peci. Ia mencoba menikmati segarnya embun pagi. Hingga sinar mentari mulai mengganti gelap yang sunyi, segala rutinitas pun menjadi peran yang harus dijalani. Seperti biasa Pak Ihsan memompa sepeda angin miliknya sebelum pergi mengajar. Tak lupa ia memasukkan bekal ke dalam tas miliknya. Setelah siap, barulah ia berangkat.
Pak Ihsan adalah seorang guru matematika sekolah menengah pertama yang sudah belasan tahun melakoni profesinya Di kalangan siswa ia terkenal sebagai guru yang disiplin sekaligus galak. Tak heran jika ia ditakuti. Tak jarang dijumpai siswa yang hanya menundukkan kepala kala berpapasan dengannya.
            “Kerjakan soal halaman 21 nomor 3, 4 dan 6. Waktunya 15 menit. Nanti saya akan menunjuk beberapa anak untuk ke depan.” Pak Ihsan menjelaskan dengan lantang.
            Tanpa pikir panjang semua siswa bergegas mengerjakan. Mereka terlihat tegang. Kecuali seorang siswa laki-laki yang duduk di bangku dekat jendela. Ia mengerjakan soal yang ada sembari tersenyum penuh ketenangan. Pak Ihsan terheran.
“Rizal, sepertinya kamu menikmati soal yang saya berikan sampai-sampai tersenyum seperti itu. Kamu bisa mengerjakan semua soalnya?” tanya Pak Ihsan.
Rizal tidak langsung menjawab pertanyaan gurunya. Ia hanya tersenyum.
“Belum bisa pak.” Jawab Rizal kemudian.
“Lalu kenapa kamu tersenyum seperti itu?” tanya Pak Ihsan dengan tegas.
“Saya tersenyum memberi semangat pada diri saya, pak.” Jelas Rizal.
“Bagus.” Puji Pak Ihsan. “Sudah-sudah. Lanjutkan pekerjaanmu. Kalian semua segera selesaikan tugasnya. Waktunya kurang 5 menit.” Terang Pak Ihsan dengan suara lantangnya.
Mengetahui waktu yang kian menghimpit, semua wajah terlihat gelisah. Hingga waktu pun berakhir. Pak Ihsan menunjuk Bella, Intan dan Rizal untuk mengerjakan di depan. Dari ketiganya hanya Rizal yang tidak dapat menyelesaikan soal nomor 6. Dia terhenti di tengah jalan. Anehnya, ia tetap terlihat tenang.
“Soal semudah itu kamu tidak bisa mengerjakan?!” bentak Pak Ihsan membuat suasana kelas semakin suram.
“Maaf pak. Saya akan belajar lebih giat lagi.” Tutur Rizal dengan tenang, namun tetap bersikap penuh hormat.
“Bagus, itu memang sudah menjadi kewajibanmu sebagai seorang pelajar.”
Jam pelajaran telah usai. Istirahat pertama pun tiba. Semua siswa bergegas menuju kantin untuk sekedar membeli jajan. Namun, hal ini tidak berlaku bagi Rizal. Ia tetap di kelas. Kondisi ini menarik perhatian Pak Ihsan untuk bertanya.
“Rizal, kenapa kamu tidak pergi ke kantin juga?” tanya Pak Ihsan.
“Tidak, pak. Saya membawa bekal. Saya ingin meniru Bapak yang selalu membawa bekal ke sekolah.” Jelas Rizal. Membuat Pak Ihsan sedikit terheran.
 “Oh begitu, ayo makan bersama bapak.” Pak Ihsan mengangkat sebuah kursi dan meletakkannya tepat di samping kursinya. “Kalau bekalmu kamu makan sekarang nanti siang kamu makan apa?” tanya Pak Ihsan kemudian.
“Saya pergi ke perpustakaan. Saya sering melihat bapak di sana.” Terang Rizal.
“Rupanya kamu sering memerhatikan bapak ya?” Pak Ihsan terlihat senang dengan penuturan Rizal. Sejenak komunikasi diantara keduanya terhenti. Mereka terlihat begitu menikmati bekal masing-masing.
            “Kelak saya ingin menjadi guru seperti bapak. Seorang guru yang ditakuti.”
            Pak Ihsan terkejut mendengar penuturan Rizal yang tiba-tiba hingga membuatnya sedikit tersedak. Pernyataannya benar-benar menusuk ke dalam hati. Ditakuti? Rupanya siswa salah mengartikan niatnya. Pak Ihsan hanya mencoba menciptakan kedisiplinan. Namun itu memberi kesan buruk bagi dirinya.
Jadi, aku menjadi sosok yang ditakuti siswa.” Batin Pak Ihsan menyimpulkan.
            “Kenapa kamu selalu tersenyum?” tanyanya kemudian.
            Terlihat Rizal tak langsung menjawab. Ia meneguk air mineralnya.
“Kakak memberi saya dua kunci.” Jelasnya singkat sembari meneguk air mineralnya lagi.
“Dua Kunci? Maksudnya bagaimana?” tanya Pak Ihsan terheran.
Lagi-lagi Rizal tak langsung menjawab. Kini ia berusaha menyuapkan beberapa sendok nasi ke dalam mulutnya. Pak Ihsan tidak tergesa menyikapi keadaan ini. Ia berusaha menjadi murid yang baik. Sementara Rizal menjadi gurunya.
“Kunci pertama adalah ikhlas. Kunci kedua adalah senyum. Ikhlas membuat diri kita lebih bersemangat untuk berikhtiar dan senyum akan memperingan keadaan. Seandainya ada kunci-kunci lain yang berguna untuk kebaikan, sungguh tak ada kebimbangan untuk turut menggunakan. Kakak menasihati saya seperti itu, pak.” Terang Rizal.
Pak Ihsan seolah mendapat pelajaran berharga hari ini. Ia tersenyum penuh kebanggan. Bangga akan penuturan muridnya dan menjadi isnpirasi tersendiri bagi dirinya.
“Kakak kamu pasti orang yang baik. Selalu menasihati adiknya pada kebaikan.” Puji Pak Ihsan sembari menepuk pundak Rizal.
“Terima kasih, pak. Kakak saya juga seorang guru seperti bapak. Dia selalu menasihati saya untuk terus belajar dan ….” Kata-kata Rizal terhenti. Ia terdiam. “Semoga kakak selalu bangga padaku di surga sana.” Rizal melanjutkan kalimatnya sembari menahan air mata yang sudah menggenang.
            Pak Ihsan terkejut dengan pernyataan terakhir yang dilontarkan Rizal. Ia mencoba menenangkan hati murid yang telah menginspirasinya. Selagi Rizal terbenam dalam kesedihan, hati Pak Ihsan seakan terpatri untuk berikrar.
“Kelas ini menjadi saksi. Tekad baru untuk menjadi sosok yang terpuji. Bukan sosok yang ditakuti. Melainkan sosok yang dapat menjadi panutan bagi siswa-siswi. Akan kusampaikan ilmu dengan sepenuh hati hingga mampu menjadi inspirasi. Akan kuciptakan suasana belajar baru yang menyenangkan. Bukan ketakutan. Hingga terwujud tujuan pembelajaran. Hingga terbentuk generasi emas yang membanggakan.”

***
Cerita Fiksi
Dimuat di Majalah SUARA PGRI edisi Agustus 2015 dan dilombakan dalam rangka bulan bahasa KGB Oktober 2015

Cinta, Hati dan Teknologi



Cinta, Hati dan Teknologi
Oleh Indri Hapsari

“Berhentilah mengikutiku!” pinta Feby lirih.
“Dengarkan penjelasanku, Feb.” Rio menahan langkah Feby.
“Aku memang tak seberuntung kalian. A … aku.” Kalimat Feby terputus. Bulir berharga kini membasahi pipinya.
“Maaf, aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu. Tak seharusnya caci maki itu terlontar padamu. Aku bisa merasakan pedihmu dengan hatiku.” Jelas Rio.
“Hati?” tanya Feby terheran. ”Kalau memang hatimu berfungsi, tak seharusnya kau ikut merendahkanku.”
“Maaf.” Rio memohon sembari memeluk Feby.
“Cukup.” Feby meronta hingga sukses melepaskan pelukan Rio. “Ingat, cinta sejati tak memandang materi. Harusnya hatimu lebih canggih daripada teknologi yang selalu kau mashurkan dengan gigih.”

Maret 2015

Cerpen 'Lukisan Hati'



Lukisan Hati
Oleh Indri Hapsari

            Cinta itu tak kenal siapa, tua muda disapanya. Cinta juga tak kenal kapan,  sungguh tak terduga kehadirannya. Meski tak pernah ada aba-aba, namun cinta seringkali singgah. Membuat hati bahagia hingga gelisah. Bercampur aduk memberi rasa yang berkecamuk dalam dada. Sungguh, cinta adalah anugerah.
            Kini cinta itu menyapa Nizar, seorang mahasiswa jurusan seni rupa. Sebelum ini Nizar selalu bersikap dingin terhadap wanita. Namun, cinta memang luar biasa, bisa menakhlukkan hati seorang Nizar. Ia terpesona dengan keanggunan Mia. Seorang gadis berjilbab yang baru saja pindah ke desanya. Semenjak Mia datang, perhatian Nizar sukar teralihkan.
            Di suatu siang yang terik terlihat Nizar baru saja pulang dari kuliah. Langkahnya terhenti tepat di depan sebuah rumah yang tak asing baginya. Diperhatikannya sosok yang sedang berdiri sembari menatap sebuah papan. Itu Mia, sedang berdiri di halaman samping rumahnya. Nizar mendekat demi mengusir rasa penasarannya akan apa yang sedang mencuri perhatian Mia. Ternyata itu adalah sebuah papan berisi lukisan. Seni kaligrafi yang indah.
            “Apakah kamu yang membuatnya?” tanya Nizar. Mia sedikit terkejut akan kehadiran Nizar yang tiba-tiba. Tak lama setelahnya terlihat senyum yang merekah dari wajahnya.
            “Assalamualaikum.” Mia mengucap salam dengan lembutnya.
            “I … iya. Wa’alaikumsalam.” Nizar sedikit tergagap. “Nama kamu Mia, bukan? A … aku Nizar. Anak Pak Salim, tetangga sebelah.” Nizar memperkenalkan diri.
            “Iya, aku tahu. Aku sering memergokimu sedang memperhatikanku di balik tembok pagar rumah itu.” Mia tersenyum sembari tertawa kecil.
            Pernyataan Mia yang begitu tiba-tiba membuat Nizar sedikit salah tingkah. Mia mengajak Nizar duduk di teras rumahnya. Obrolan ringan disertai canda menjadi suguhan istimewa. Rupanya Mia memiliki hobi dan keterampilan yang sama dengannya, yakni melukis.
Nizar meminta Mia mengajarinya seni kaligrafi. Mia bersedia. Hari demi hari mereka berdua menjadi semakin akrab. Membuat benih cinta yang tertanam di hati Nizar bersemi indah. Mia hanya seorang gadis biasa, namun ia adalah muslimah yang sholehah. Nizar berharap dengan hadirnya seorang Mia akan mampu menjadikannya lebih bertaqwa kepada-Nya.
            Di suatu sore yang cerah Nizar mengajak Mia ke bukit tempat warga desa biasa menggembalakan ternaknya. Pemandangan desa dari atas bukit dapat disaksikan dengan leluasa. Panorama yang mengagumkan, bukti nyata keagungan-Nya.
            “Ini adalah tempat kesukaanku. Alam memberiku inspirasi. Semakin aku dekat dengan alam, hatiku tenang.” Nizar berceloteh sembari memegang sebuah sketchbook.
             “Suguhan alam yang mendamaikan ini adalah tanda kebesaran-Nya. Hatimu akan jauh lebih tenang jika kamu lebih mendekatkan diri kepada-Nya.” Mia menjelaskan sembari berdiri menatap senja.
            Sejenak tak ada obrolan di antara mereka. Nizar terlihat asik dengan coretan di sketchbook miliknya. Sementara Mia masih tetap menikmati senja.
            “Mia, ini untukmu.” Nizar memberikan sketchbook yang sedari tadi dipegangnya.
            “Ini ….” Mia tak melanjutkan kata-katanya. Ditatapnya sebuah sketsa bukit dengan matahari senja. Di sampingnya ada sebuah tulisan. Bismillah, aku mencintaimu. Sejenak Mia tertunduk, lalu diperhatikannya kembali senja yang mulai memudar. Agak lama tak terucap sepatah katapun dari mulutnya. Hanya nampak sebuah senyum tersungging yang tak dapat diartikan oleh Nizar.
            “Cinta itu memang indah. Tapi jangan sampai kita lengah karena keindahannya. Hingga membuat kita terjatuh dalam palung dosa. Hendaklah kita pandai-pandai menyikapinya.” Mia berkata sembari menghadap senja.
            “Aku sangat mencintaimu lebih dari apapun.” Jelas Nizar yang kini bangkit dari duduknya. Namun sikapnya tak membuat Mia memalingkan pandangannya dari senja.
            “Jangan terlalu berlebihan mencintai seseorang. Sahabat Rosul, Ali bin Abi Thalib berkata, Cintailah kekasihmu sekedarnya saja, siapa tahu nanti akan jadi musuhmu. Dan bencilah musuhmu sekedarnya saja, siapa tahu nanti akan jadi kekasihmu. Cintamu kepada Sang Pencipta haruslah jauh lebih dari segalanya.“ Tutur Mia menjelaskan.
Nizar memahami penuturan Mia. Ia tertunduk lesu. Cinta Mia tak bisa diraihnya.
“Serahkan semua kepada-Nya. Besok aku akan kembali ke kota. Aku mendapat beasiswa untuk kuliah di sana. Sementara ini mari sama-sama berjuang untuk masa depan.” Tutur Mia menambahkan.
            “Besok?” Nizar menghela nafas panjang. “Baiklah, jaga diri baik-baik. Semoga sukses.” Nizar berkata sembari menguatkan hatinya yang telah terasa begitu pilu.
Hilangnya senja menuntun mereka untuk kembali ke rumah. Perasaan hancur kini tepat mengenai hati Nizar. Di sepertiga malam ia bersimpuh menghadap-Nya. Melantunkan doa hingga memuji asma-Nya. Setelah itu ia mengambil kuas. Nizar mulai melukis. Sebuah lukisan yang sarat arti atas perasaannya. Sebuah lukisan hati untuk cinta. Nizar melukis wajah Mia.
Keesokan harinya travel yang siap membawa Mia datang. 
            “Ini untukmu. Simpanlah.” Nizar memberikan lukisan yang ia buat semalam. Sejenak Mia memperhatikan lukisan itu sebelum akhirnya masuk ke dalam travel.
            “Terima kasih. Setelah ini coba kamu periksa tas ranselmu yang tertinggal di rumahku kemarin. Aku pergi dulu. Asaalamualaikum.” Mia melambaikan tangan.
            “Waalaikumsalam ….” Nizar tersenyum sembari membalas lambaian tangan Mia.
            “Ransel? Aku harus memeriksanya.” Tutur Nizar sambil berlari kecil menuju rumah Mia.
Nizar membuka ranselnya. Di dalamnya ternyata ada sebuah bingkisan. Saat dibuka isinya adalah kaligrafi. Nizar tersenyum memandang kaligrafi buatan tangan Mia.  Sejenak ia perhatikan lukisan tersebut. Nizar sedikit terkejut mendapati sebuah pesan di balik lukisan itu..
            “Aku tidak pernah berkata tidak atas pengakuanmu waktu itu. Percayalah dengan takdir-Nya. Jika engkau yakin bahwa aku adalah jodoh yang dipersiapkan untukmu, maka tunggulah aku. Di sini aku juga akan menunggu, karena keyakinanku sama sepertimu.” Nizar membaca tulisan itu dengan lirih. Sebuah senyum terlukis di wajahnya yang kini terlihat cerah.  
            Nizar memajang lukisan dari Mia di tembok kamarnya. Ia memerhatikan lukisan itu dengan perasaan bahagia. Nizar bersyukur atas takdir-Nya yang sungguh indah. Nizar percaya bahwa apa yang sedang terjadi dalam hidupnya adalah yang terbaik bagi dirinya. Mungkin inilah cinta yang dilandasi dengan taqwa.
 
***
Cerita Fiksi 
Januari  2015