Kutemukan Diriku
Oleh Indri Hapsari
Selingkuh
bukanlah jalan tunggal untuk mengejar kesempurnaan
Jika
kau memilih jalan itu, maka kau hanya akan terus mengejar
Karena
kesempurnaan hanya milik Dia Yang Maha Sempurna
Abel berhenti menulis. Perlahan ditatapnya
tulisan tersebut. Dia terpaku dalam diam. Satu detik, dua detik, hingga satu
menit pun berlalu dan dia masih saja terdiam. Tiba-tiba mata indahnya memerah
dan air mata yang sangat berharga itu akhirnya tumpah. Awalnya hanya
bulir-bulir halus yang mengalir tanpa suara. Namun, dia tak kuasa dan mulai terisak.
Hingga dia menyadari suara pintu kamarnya yang terbuka.
“Bel, kamu masih sedih?” tanya Eka
sembari mendekatinya.
“Iya.” Jawab Abel singkat.
“Kalau begitu silakan menangis
sepuas hatimu.” Tutur Eka.
“Kamu ini bagaimana sih? Sebagai sahabat yang baik harusnya
kamu menghibur aku. Agar aku tidak sedih lagi. Agar aku tidak menangis lagi. Agar
aku tidak terpuruk dan larut dalam dilema ini.” Cerocos Abel.
“Hahaha … ini dia Abel yang aku kenal. Cerewet ….”
Ejek Eka.
Abel manyun, membuang pandang dari Eka dan kembali menatap
tulisan yang dibuatnya tadi. Eka tertarik untuk mengintip isi tulisan yang
dipegang oleh Abel.
“Bel, jika kamu masih sedih jangan ragu untuk menangis.
Luapkan semua perih di hatimu. Menangislah sekarang agar bebanmu teringankan.
Setelah itu jangan kamu menangis lagi karena Rio. Meratapi kisah masa lalu
tidak akan membuat dirimu lebih baik. Kamu harus move on.” Nasihat Eka pada Abel.
“Kamu benar. Aku tak boleh terus terperangkap dalam
kesedihan ini. Banyak hal yang masih bisa kulakukan tanpa dia. Akan kubuat diri
ini lebih berguna.” Tutur Abel mantap.
Diraihnya bolpoin yang masih tergeletak di atas meja
belajarnya. Abel kembali menulis. Setelah selesai dirobeknya kertas tersebut lalu
dia tempel di sudut atas kaca riasnya.
“Move on?
Siapa takut!” Eka membaca tulisan yang baru saja dibuat Abel. Eka tersenyum.
Ditepuknya pundak Abel sembari berkata, “Semangat kawan.”
Abel memiliki tekad yang kuat. Dia melakukan beragam
cara demi kesuksesan rencananya. Dia menyibukkan diri dengan beragam aktifitas.
Mencoba hal-hal baru yang belum pernah dia lakukan. Tentu saja dengan dukungan
sahabatnya yang setia, Eka. Awalnya semua yang dilakukan Abel masih wajar. Hingga
suatu hari Abel terlihat sangat berbeda.
“Bel, ada apa dengan penampilanmu sekarang ini?” tanya
Eka terheran.
“Ini gaya terbaru yang sedang mendunia. Aku juga
mencoba berbagai macam tat arias wajah. Coba kamu perhatikan. Bagaimana
menurutmu?” tanya Abel dengan riangnya.
“Bel, aku mendukung semua yang kamu lakukan sebelum
ini. Kamu belajar menyulam, memasak, hingga merangkai bunga. Itu semua hal baru
yang dapat mengembangkan bakat dan kepribadianmu. Namun, untuk kali aku tidak
setuju. Dandanan yang berlebihan ini sama sekali bukan kamu. Kamu memang harus move on, tapi tetaplah menjadi dirimu
sendiri.” Tutur Eka menasihati.
“Eka, tidak ada larangan bagi seseorang untuk mencoba
hal baru.” Abel membela diri.
“Benar, tapi tidak perlu berlebihan seperti ini. Ini
bukan Abel yang kukenal. Berubah bukan berarti kamu harus menjadi orang lain.
Kesederhanaan dan kesahajaan dalam dirimu saja sudah cukup. Daripada melakukan
hal-hal yang aneh lebih baik kamu mengembangkan bakat terpendam dalam dirimu.”
Tegas Eka.
“Apa? Tak ada yang istimewa dariku.” Tutur Abel.
“Bel, bukankah kamu suka menulis. Beberapa kali aku
terkagum dengan rangkaian kata yang kamu buat. Aku kira itulah bakat yang harus
kamu kembangkan.” Tutur Eka.
“Apa aku bisa? Selama ini yang aku tulis hanyalah
kesedihan.” Sahut Abel.
“Kalau begitu ubahlah menjadi suatu kebahagiaan.”
Jelas Eka.
“Kenapa seperti itu?” tanya Abel tak mengerti.
“Karena dalam kehidupan, manis dan pahit terkadang
silih berganti memberi rasa dan mewarnai hidupmu. So, Jangan hanya kesedihan, ukirlah kebahagiaan dan setiap kisah
hidupmu di atas kertas.” Tutur Eka bijak.
Abel memeluk sahabatnya. Air matanya kembali mengalir.
Dia sempat putus asa dengan semua usahanya. Move
on memang mengharuskan diri untuk kembali berdiri tegar setelah terbelenggu
dalam keterpurukan. Namun, move on tidak
mengharuskan pelakunya untuk menjadi orang lain hingga lupa akan jati dirinya.
Kini Abel mengerti apa yang harus dia lakukan. Berusaha bangkit namun tetap
menjadi diri sendiri.
Abel berdiri di depan cermin. Ditatapnya tulisan yang
tertempel di sudut atas cermin riasnya. Sempat dia termenung lama. Melawan
suasana hati yang berkecambuk. Sempat pula terlintas bayang-bayang kesedihan
masa lalunya. Namun. dia tak lagi larut dalam kesedihan.
Abel mengambil bolpoin miliknya dan mulai bermain
dengan kata. Dia menuliskan kisahnya dalam sebuah cerita singkat. Cara ini ternyata
membantunya untuk melawan kesedihan saat dia kambali menyusuri kisah masa
lalunya. Rupanya hal ini cukup membuatnya bahagia. Hingga dia terbiasa untuk
menulis dan berkisah. Kini, telah banyak cerita yang dia hasilkan. Bukan hanya
cerita kesedihan, melainkan juga kebahagiaan dan petualangan. Tak jarang Eka
terkagum-kagum dengan cerita yang dibuat Abel. Hingga suatu hari Eka datang
dengan sebuah kabar yang mampu mengubah hidupnya.
“Abel, aku punya sesuatu untukmu.” Tutur Eka.
“Amplop? Apa isinya? Apa aku akan sedih saat
mengetahui isinya? Atau aku akan terkejut lalu pingsan?” tanya Abel beruntun.
“Kamu ini memang cerewet. Sudah, buka saja.” Sahut Eka
sembari tersenyum.
Abel terkejut ketika mengetahui isi amplop tersebut.
“Selamat ya, Bel. Jangan pingsan. Hehe ….” Tutur Eka
sembari mencubit pipinya.
“Bagaimana bisa? Aku menjadi juara pertama dalam kontes
penulis muda. Ini … tak bisa kupercaya.” Tutur Abel terheran.
“Aku diam-diam mengirimkan cerita yang kamu buat kepada
pihak penyelenggara lomba. Sekitar sepuluh hari yang lalu. Maaf, aku tidak
meminta izin darimu.” Ucap Eka.
“Kamu tidak perlu meminta maaf. Justru aku yang harus
berterima kasih kepadamu. Karena dukunganmu aku bisa cepat move on dari masa lalu yang membayangiku. Dan karena kamu pula aku
bisa menemukan bakat terpendamku, jati diriku.” Tegas Abel.
“Tidak, ini semua karena usahamu. Tekadmu memang luar
biasa. Aku bangga padamu, Bel. Apakah kamu sudah lupa dengan kisah pahit masa
lalumu itu?” tanya Eka.
“Aku tidak lupa. Aku tidak akan pernah melupakannya.
Karena aku butuh menengok ke belakang agar bisa lebih berhati-hati di masa
depan.” Tutur Abel bijak.
“Bagus. Itulah Abel yang aku kenal. So ….” Eka menghentikan kata-katanya. Dia
melirik Abel. Kemudian dengan serempak mereka berkata, “Sukses. Yee ….”
Tak ada kisah yang sia-sia. Semua pasti mengandung
hikmah yang bisa menjadikan diri lebih bijaksana. Patah hati memang menyakitkan.
Namun, akan lebih menyakitkan lagi jika terus terjebak dalam keterpurukan. So, Move
on? Siapa takut!
***
Cerita Fiksi
Januari 2015